Ketegangan Keraton Solo Pecah di Hadapan Menteri Kebudayaan Fadli Zon

Dua kubu raja kembar, yakni pihak Paku Buwono (PB) XIV Purbaya dan PB XIV Mangkubumi, terlibat cekcok bertepatan dengan kedatangan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon ke lingkungan keraton, Minggu (18/1/2026).

Ketegangan kembali mewarnai konflik internal Keraton Surakarta. Dua kubu raja kembar, yakni pihak Paku Buwono (PB) XIV Purbaya dan PB XIV Mangkubumi, terlibat cekcok bertepatan dengan kedatangan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon ke lingkungan keraton, Minggu (18/1/2026).

Situasi sempat memanas sebelum agenda resmi dimulai. Rombongan Lembaga Dewan Adat (LDA) yang hendak memasuki area inti Keraton Solo dilaporkan mendapat penghadangan dari kelompok yang berafiliasi dengan kubu PB XIV Purbaya. Adu argumen pun tak terhindarkan, meski ketegangan akhirnya dapat diredam oleh pihak terkait.

Ketegangan kembali muncul usai Fadli Zon menyampaikan sambutan dalam agenda penyerahan Surat Keputusan (SK) Menteri Kebudayaan. Dalam kesempatan tersebut, Pangageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, GKR Panembahan Timoer, secara terbuka menyatakan keberatan atas salah satu poin dalam SK tersebut.

GKR Panembahan Timoer, yang juga merupakan kakak kandung PB XIV Purbaya, memprotes penunjukan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sebagai pelaksana pengembangan Keraton Solo. Ia menilai keputusan tersebut tidak melalui mekanisme internal keraton secara menyeluruh.

Aksi protes itu berlangsung spontan ketika GKR Panembahan Timoer tiba-tiba mengambil mikrofon di hadapan para tamu undangan. Ia kemudian meminta kesempatan berbicara langsung kepada Menteri Kebudayaan.

“Saya minta waktu untuk bicara sebentar,” ujar Timoer.

Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa konflik dualisme kepemimpinan di Keraton Solo masih menyisakan ketegangan, bahkan di tengah agenda kebudayaan yang melibatkan pemerintah pusat.

Tutup