Sejarah Gerakan Tritura yang Menjadi Penegak Kekuasaan Rakyat Indonesia

Aksi teatrikal mahasiswa yang mengarak sosok Menteri Soebandrio pada 1966. Menterinya Dibilang Goblok saat Aksi Demonstrasi Mahasiswa 1966, Presiden Soekarno Tersinggung.

Pada 56 tahun yang lalu tepatnya 10 Januari 1966 telah terjadi sebuah gerakan mahasiswa dan rakyat Indonesia akibat kekecewaan mereka terhadap kondisi politik serta ekonomi pada masa itu.

Gerakan tersebut, dilakukan untuk memberikan resolusi kepada pemerintahan Indonesia yang akhirnya dikenang sebagai gerakan Tri Tuntutan Rakyat.

Tragedi Tri Sakti 1998 memang menjadi gerakan mahasiswa dan rakyat Indonesia yang sangat besar dalam upaya menggulingkan kepemimpinan Presiden Soeharto, tetapi tragedi tersebut bukanlah awal dari gerakan besar yang dilakukan mahasiswa dan rakyat Indonesia.

Di awal tahun 1966, bangsa Indonesia mengalami sebuah perdebatan yang cukup besar akibat kinerja pemerintahan Soekarno yang sangat lamban dan tak fokus dalam penanganan tragedi berdarah 30 September 1965.

Gerakan mahasiswa ini, terjadi pada tanggal 10 hingga 13 Januari yang pertama kali dikumandangkan di halaman fakultas kedokteran Universitas Indonesia, mereka sangat geram dengan pemerintahan Soekarno pada masa itu. Gerakan tersebut memiliki isi permasalahan sebagai berikut: Bubarkan Partai Komunis Indonesia, Rombak Kabinet Dwikora, dan Turunkan Harga.

Pertama mengenai pembubaran Partai Komunis Indonesia, hal ini bermula dari lambannya pemerintah menindak tragedi G30S PKI.

Sudah empat bulan berlalu sejak penculikan dan pembunuhan para petinggi serta angkatan darat, Soekarno masih bimbang dalam mengambil keputusan tegas terlebih lagi beberapa tokoh komunis masih menjabat sebagai kabinet di pemerintahan Soekarno pada masa itu.

Kedua mengenai perombakan Kabinet Dwikora, tuntutan ini didasari oleh masyarakat yang menilai bahwa pemerintahan Soekarno dianggap tidak bisa mengendalikan kestabilan sosial, kestabilan politik, dan kestabilan ekonomi.

Masyarakat juga menganggap Soekarno lebih mementingkan konfrontasi dengan Malaysia serta usaha merebut kembali Irian Barat.

Ketiga mengenai turunkan harga, tuntunan ini dilandasi akibat dari kebijakan pemerintah yang tidak tepat sehingga membuat perekonomian sangat terpuruk pada masa itu.

Kabinet Dwikora yang menjabat saat itu memberikan inisiatif  kepada Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Peraturan Presiden sehingga merubah nilai kurs rupiah Rp 1000 menjadi Rp 1.

Respon yang dilakukan pemerintah saat itu sangat lambat, sehingga para mahasiswa dan rakyat Indonesia semakin geram dan terhembus desas desus untuk menurunkan Presiden Soekarno dari jabatan kepresidenannya.

Desakan terus dilakukan hingga pada 21 Februari 1966 Presiden Soekarno mengeluarkan reshuffle kabinet terbarunya. Alih alih meredakan kegeraman yang terjadi, reshuffle tersebut malah menambah kegeraman dari berbagai pihak karena pada susunan kabinet terbaru yang dikeluarkan oleh Soekarno masih ada beberapa tokoh yang berhaluan komunis.

Sehingga pada 24 Februari 1966 massa kembali menuntut Presiden Soekarno yang sedang melakukan pelantikan menteri – menteri baru dan berakhir bentrok antara mahasiswa dengan pasukan pengawal presiden.

Pada saat itu juga seorang mahasiswa bernama Arif Rahman Hakim harus menjadi korban akibat tembakan yang dilepaskan oleh para pasukan pengawal presiden.

 

Akhirnya Presiden Soekarno mengeluarkan surat perintah pada 11 Maret 1996 yang menunjuk Soeharto untuk mengendalikan keamanan serta ketertiban pada saat itu.

Surat perintah tersebut malah dimanfaatkan Soeharto untuk merebut kekuasan Presiden Soekarno dan menjadikan awal dari kepemimpinan Presiden Soeharto.

Kabinet orde baru pada masa itu menjadikan Soekarno sebagai tahanan rumah hingga wafat pada 1970. Hingga kini setiap tanggal 10 Januari diperingati sebagai hari Tritura.

Oleh: Pramana Guntur Azhari

Tutup