Sebelum Jadi Fashion Perempuan, High Heels Dipakai Tentara
Sepatu hak tinggi atau high heels selama ini identik dengan gaya berpakaian perempuan. Namun, sejarahnya justru menunjukkan bahwa alas kaki ini pernah populer di kalangan pria, mulai dari tentara berkuda hingga bangsawan Eropa.
Perubahan fungsi dan pemakainya berlangsung selama berabad-abad. Dari perlengkapan untuk membantu aktivitas berkuda, sepatu berhak kemudian berkembang menjadi simbol status sosial sebelum akhirnya dikenal luas sebagai bagian dari industri fashion.
Berikut lima fakta menarik tentang sejarah high heels.
1. Berawal dari kebutuhan tentara berkuda Persia
Jauh sebelum menjadi tren fashion, sepatu berhak digunakan oleh tentara berkuda Persia. Menurut Swiss National Museum, penggunaan sepatu jenis ini telah dikenal sejak sekitar abad ke-10.
Hak pada sepatu membantu kaki tetap berada di sanggurdi ketika penunggang kuda bergerak. Posisi tersebut penting untuk menjaga keseimbangan, terutama saat memanah atau bertempur dari atas kuda.
Dengan demikian, fungsi awal sepatu berhak lebih berkaitan dengan kebutuhan praktis di medan perang daripada menunjang penampilan.
2. Menjadi simbol status bangsawan Eropa
Memasuki akhir abad ke-16 hingga abad ke-17, sepatu berhak mulai mendapat tempat di kalangan elite Eropa. Pertukaran budaya dan hubungan diplomatik dengan Persia ikut memengaruhi gaya berpakaian masyarakat Barat.
Bagi para bangsawan, sepatu hak tinggi kemudian menjadi penanda status dan prestise. Salah satu tokoh yang dikenal memopulerkan gaya tersebut adalah Raja Louis XIV dari Prancis.
Pada abad ke-17, sepatu dengan hak merah menjadi bagian dari citra eksklusif lingkungan istana Louis XIV. Penggunaannya memperlihatkan bahwa alas kaki tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga dapat menunjukkan kedudukan sosial seseorang.
3. Perempuan mulai mengikuti tren sepatu berhak
Pada abad ke-17, perempuan dari kalangan elite Eropa turut mengadopsi sepatu hak tinggi. Modelnya berkembang mengikuti selera berpakaian dan budaya pada masa itu.
Perbedaan desain mulai terlihat dalam bentuk hak yang digunakan. Sepatu pria umumnya memiliki hak lebih lebar, sedangkan sepatu perempuan cenderung menggunakan desain yang lebih ramping.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa high heels pada awalnya bukan aksesori yang secara eksklusif diperuntukkan bagi perempuan. Penggunaannya dipengaruhi oleh status sosial, kebiasaan, dan tren berpakaian pada zamannya.
4. Popularitasnya menurun menjelang Revolusi Prancis
Menjelang akhir abad ke-18, sepatu hak tinggi mulai kehilangan popularitas seiring perubahan selera dan pandangan masyarakat terhadap kemewahan kaum bangsawan.
Revolusi Prancis turut menjadi bagian dari perubahan sosial yang mendorong gaya berpakaian lebih sederhana. Sepatu dengan hak rendah atau datar semakin diminati, sementara alas kaki yang sebelumnya menjadi simbol status mulai ditinggalkan.
Perubahan ini ikut mempertegas pergeseran tren sepatu pria dan perempuan. High heels semakin jarang digunakan pria dalam penampilan sehari-hari, sedangkan desain sepatu perempuan terus berkembang.
5. Berkembang menjadi ikon fashion perempuan
Pada abad ke-19, sepatu hak tinggi kembali hadir dalam berbagai bentuk, termasuk sepatu bot berkancing dan bertali serta alas kaki untuk acara malam. Perkembangan industri sepatu pada abad ke-20 kemudian memperluas pilihan model dan desain.
Salah satu model yang dikenal luas adalah stiletto, dengan hak tinggi dan ramping. Seiring perkembangan tren sejak paruh kedua abad ke-20, high heels semakin lekat dengan fashion perempuan.
Meski demikian, sepatu berhak tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh pria. Alas kaki tersebut masih digunakan dalam konteks tertentu, seperti pertunjukan panggung, peragaan busana, dan gaya alternatif.
Perjalanan high heels memperlihatkan bahwa makna sebuah produk fashion dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Alas kaki yang awalnya membantu tentara berkuda, lalu menjadi simbol status bangsawan pria, kini lebih sering diasosiasikan dengan penampilan perempuan.



