Totalitas Perankan Dasiyah dalam Serial Gadis Kretek, Begini Pengorbanan Dian Sastrowardoyo

Dian Sastro

terkenal.co.id – Dian Sastrowardoyo kembali menyapa penggemar dan para pecinta film melalui peran barunya yang cukup menyita perhatian publik belakangan ini dalam serial Gadis Kretek.

Dalam serial yang tayang di Netflix tersebut, Dian Sastrowardoyo berperan sebagai Dasiyah atau Jeng Yah yang membuatnya menjadi sosok berbeda dari karakter aslinya.

Bahkan, perempuan berusia 41 tahun itu mengaku peran barunya itu sangat sulit dan berbeda sepanjang karirnya sebagai artis.

“Kalau gue sebenarnya personality Jeng Yah atau Dasiyah termasuk karakter yang paling susah yang pernah gue peranin dalam karier gue. Kenapa? Gue merasa kalau karakter Jeng Yah tuh beda sama Dian,” kata Dian Sastro dalam podcast TS Media.

Dian Sastro mengatakan bahwa dirinya sosok yang ekspresif. Sementara karakter Dasiyah adalah perempuan yang pendiam.

“Dian tuh orangnya gue kan transparan banget gitu, gue ekspresif kalau gue ngomong tuh animated. Jeng Yah diem dan itu pegel banget, nahannya,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan kalau sempat berkorban hampir satu tahun tidak melakukan berbagai kebiasaan dan hal yang sangat disukai. Awalnya merasa aneh, lambut laun demi totalitas peran jadi tak masalah.

“Buat pendekatan karakter ini gue banyak banget pengorbanannya. Gue tuh 6 bulan nggak ketemu teman-teman sepeda gue. Karena nggak dibolehin isolated gitu ya. Stop dulu ketemu teman-teman elo yang Jaksel-Jaksel itu”, tuturnya.

“Stop dulu semua olahraga cepat, sepeda stop, lari stop, tennis gue lagi suka-sukanya stop. Soalnya itu impact, elo harus gliding gitu dalam hidup”, paparnya.

Tidak hanya itu, pemain film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) menuturkan selama 6 bulan dirinya hanya melakukan kegiatan menari Jawa dan meditasi.

“Jadi gue langsung stop itu semua, olahraga yang gue ambil cuma nari Jawa sama meditasi, mati nggak elu. Seseorang yang penuh ambisi ngilang guys,” ucapnya.

Dian Sastro juga tak mendengarkan radio, musik modern dan tak memegang Handphone. Di momen itu, dia hanya mendengarkan musik gamelan hingga keroncong.

“Di rumah gue nggak pegang handphone nggak dengerin radio, nggak dengerin musik modern sama sekali, gue cuma kalau gue sendiri gue cuma baca buku hiburan gue sama dengerin musik klasik sama musik gamelan Jawa keroncong zamah Ismail Marzuki. Jadi gitu deh,” pungkasnya.

Editor: Wilujeng Nurani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup