Harga Minyak Dunia Melonjak, Konflik AS–Israel vs Iran Picu Krisis Energi Global
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas dan berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada perdagangan Kamis (19/3/2026) setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur energi milik Iran.
Berdasarkan data perdagangan, minyak mentah jenis Brent mengalami lonjakan hingga menyentuh level US$112 per barel atau naik sekitar 4,27 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut menguat 2,73 persen ke posisi US$98,95 per barel.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama setelah fasilitas gas raksasa South Pars menjadi target serangan roket sehari sebelumnya.
South Pars yang berada di kawasan Asaluyeh dikenal sebagai salah satu ladang gas terbesar di dunia. Fasilitas ini memiliki peran krusial dalam memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan gas domestik Iran, sehingga serangan terhadapnya dinilai sebagai pukulan serius terhadap sektor energi negara tersebut.
Eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada fasilitas produksi, tetapi juga mengganggu jalur distribusi energi global. Salah satu titik krusial yang terdampak adalah Selat Hormuz, yang dilaporkan mengalami gangguan operasional.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair (LNG). Terganggunya jalur ini meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya krisis pasokan energi dalam skala global.
Selain itu, gangguan produksi di kawasan Timur Tengah diperkirakan dapat mengurangi pasokan minyak hingga 7–10 juta barel per hari. Angka tersebut setara dengan sekitar 10 persen dari total kebutuhan energi global.
Sebagai respons, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam dilaporkan melancarkan serangan balasan ke sejumlah target di kawasan Teluk. Salah satu dampaknya adalah insiden kebakaran di fasilitas gas Ras Laffan di Qatar.
IRGC juga mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Mereka menyatakan tidak akan ragu menargetkan infrastruktur energi jika serangan terhadap Iran terus berlanjut.
Situasi ini memicu reaksi dari sejumlah negara di kawasan seperti Irak, Oman, dan Uni Emirat Arab yang mengecam aksi militer tersebut. Mereka menilai serangan terhadap fasilitas energi berpotensi memperburuk stabilitas ekonomi global dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.
Hingga kini, upaya pemadaman kebakaran di area Asaluyeh masih terus dilakukan, sementara pasar energi global berada dalam kondisi waspada tinggi. Pelaku pasar menunggu perkembangan lebih lanjut, terutama terkait langkah diplomatik yang dapat meredakan ketegangan.






