Video Anak Jadi WN Inggris Viral, Dwi Sasetyaningtyas Mantan Awardee LPDP Dikecam Warganet

Dwi Sasetyaningtyas

Nama Dwi Sasetyaningtyas tengah menjadi perbincangan hangat di jagat media sosial setelah mengunggah video yang memperlihatkan momen kebahagiaannya saat anak keduanya resmi memperoleh kewarganegaraan Inggris.

Dalam video yang beredar luas tersebut, Dwi tampak menunjukkan paket kiriman dari Home Office yang berisi dokumen kewarganegaraan serta paspor Inggris milik sang anak. Unggahan itu dengan cepat menyebar di berbagai platform digital.

Namun, perhatian publik tidak hanya tertuju pada status kewarganegaraan anaknya. Pernyataan yang disampaikan Dwi dalam video tersebut justru memicu polemik di kalangan warganet.

“I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ujar Dwi dalam potongan video yang viral.

Pernyataan tersebut menuai beragam respons, terutama karena Dwi diketahui merupakan mantan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang pendanaannya bersumber dari anggaran negara.

Sejumlah pengguna media sosial menyayangkan pernyataan tersebut dan menilai sikap Dwi tidak mencerminkan tanggung jawab moral sebagai penerima manfaat program pendidikan yang dibiayai oleh pajak masyarakat Indonesia.

Polemik ini bahkan turut disorot dalam program berita Sindo Prime. Dalam tayangan tersebut, pembawa acara sempat menyinggung kasus tersebut dengan nada satir sembari menunjukkan dokumen persetujuan cuti sebagai ilustrasi.

Di tengah gelombang kritik yang terus bermunculan, Dwi akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf melalui akun media sosial pribadinya.

Ia menegaskan telah memenuhi kewajiban sebagai penerima beasiswa LPDP dengan menjalani masa pengabdian selama lima tahun di Indonesia sejak lulus pada 2017.

Dwi juga menjelaskan bahwa kepindahannya ke Inggris dilakukan untuk mengikuti suaminya, bukan untuk menghindari kewajiban sebagai penerima beasiswa negara.

Terkait pernyataannya yang menuai kontroversi, Dwi mengaku ucapan tersebut merupakan luapan emosi sesaat akibat rasa lelah dan frustrasi terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.

Meski telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, respons publik di media sosial masih beragam. Sebagian pihak menilai pernyataan tersebut tetap tidak pantas disampaikan di ruang publik oleh sosok yang pernah menerima dukungan pendidikan dari negara.

Tutup