Pinjol Tembus Rp100,69 Triliun per Februari 2026

Ilustrasi pinjaman online

Utang masyarakat Indonesia melalui layanan pinjaman online (pinjol) atau peer to peer (P2P) lending terus menunjukkan tren peningkatan signifikan. Hingga Februari 2026, total outstanding pembiayaan tercatat mencapai Rp100,69 triliun.

Data tersebut disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang mencatat pertumbuhan sebesar 25,75 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Lonjakan ini mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap akses pembiayaan digital di tengah kebutuhan ekonomi yang terus meningkat.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, mengungkapkan bahwa secara bulanan pun terjadi kenaikan yang cukup signifikan. Pada Januari 2026, total pinjaman masih berada di level Rp98,54 triliun, kemudian meningkat Rp2,15 triliun dalam satu bulan.

“Outstanding pembiayaan pinjaman daring per Februari 2026 tumbuh 25,75 persen secara tahunan dengan nominal mencapai Rp100,69 triliun,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026).

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, OJK juga menyoroti peningkatan risiko kredit macet. Tingkat wanprestasi atau TWP90 tercatat naik menjadi 4,54 persen pada Februari 2026, dibandingkan 4,38 persen pada Januari.

“Tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 berada di posisi 4,54 persen,” jelas Agusman.

Selain sektor pinjol, industri pergadaian juga mencatat lonjakan pembiayaan yang signifikan. Hingga Februari 2026, nilai pembiayaan pergadaian mencapai Rp152,4 triliun atau tumbuh 61,78 persen secara tahunan.

Mayoritas pembiayaan tersebut berasal dari produk gadai yang mendominasi hingga Rp126 triliun, atau sekitar 83,01 persen dari total penyaluran. Seiring peningkatan tersebut, total aset industri pergadaian turut naik dari Rp171,07 triliun pada Januari menjadi Rp182,71 triliun di Februari 2026.

Sementara itu, sektor modal ventura menunjukkan pertumbuhan yang relatif terbatas. Pembiayaan hanya meningkat 0,78 persen secara tahunan menjadi Rp16,46 triliun, meskipun nilai aset industri tetap mengalami kenaikan menjadi Rp27,63 triliun.

Secara keseluruhan, tren ini menggambarkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan, baik melalui platform digital maupun lembaga keuangan konvensional. Namun, peningkatan tersebut juga diiringi tantangan dalam menjaga kualitas kredit agar tetap sehat dan berkelanjutan.

Tutup