Kursi Pijat Jadi Polemik, Gubernur Kaltim Persilakan Kritik
Nama Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, kembali ramai diperbincangkan publik setelah muncul sorotan terkait fasilitas di rumah dinasnya. Perhatian tertuju pada keberadaan kursi pijat dengan nilai mencapai Rp125 juta per unit, yang memicu beragam respons di media sosial.
Isu tersebut berkembang bukan tanpa alasan. Sejumlah kalangan mempertanyakan urgensi pengadaan fasilitas tersebut, terutama di tengah tuntutan prioritas pembangunan daerah yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius.
Menanggapi polemik itu, Rudy Mas’ud memberikan penjelasan dari sudut pandangnya. Ia menyebut kursi pijat tersebut bukan sekadar simbol kemewahan, melainkan sarana pemulihan fisik setelah menjalani aktivitas dinas yang padat dan melelahkan.
“Soal kursi pijat itu memang ada. Mungkin kasihan gubernurnya, sering menyetir sendiri dengan jarak tempuh yang jauh,” ujarnya.
Rudy mengungkapkan bahwa mobilitasnya sebagai kepala daerah di wilayah dengan cakupan geografis luas menuntut stamina ekstra. Ia bahkan kerap mengemudikan kendaraan sendiri saat melakukan perjalanan dinas.
“Kami berangkat sebelum matahari terbit, dan sering kali belum sampai tujuan saat matahari sudah terbenam. Perjalanannya bisa ribuan kilometer,” katanya.
Ia juga menyinggung kondisi pribadi yang jarang memiliki waktu istirahat optimal. Menurutnya, rutinitas tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus dijalani sebagai gubernur.
Dalam pernyataannya, Rudy tidak menampik kritik yang berkembang di masyarakat. Ia justru mempersilakan publik untuk terus memberikan masukan sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap kebijakan dan penggunaan fasilitas negara.
“Silakan disampaikan kritiknya, walaupun pahit. Itu penting untuk perbaikan ke depan,” tegasnya.
Polemik ini kembali membuka diskusi publik mengenai batas kewajaran fasilitas pejabat negara, serta pentingnya transparansi dalam penggunaan anggaran.




