Hoaks Baru, Nama Trump Dicatut Picu Isu Agama

Trump

Informasi menyesatkan kembali beredar di media sosial, kali ini berupa tangkapan layar yang diklaim sebagai cuitan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Konten tersebut memuat narasi sensitif yang menyinggung kondisi keagamaan di Indonesia dan memicu polemik di ruang digital.

Dalam unggahan yang beredar, disebutkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim Sunni dinarasikan mendukung Iran yang identik dengan Syiah. Narasi itu juga mencoba membenturkan kelompok keagamaan di dalam negeri, sehingga memancing reaksi publik.

Namun, hasil penelusuran menunjukkan bahwa informasi tersebut tidak benar. Konten yang beredar dipastikan sebagai hasil manipulasi digital yang sengaja dibuat untuk menyesatkan opini publik.

Akun Instagram Cek Fakta RI menyatakan bahwa tidak ditemukan cuitan resmi dari Donald Trump sebagaimana yang diklaim dalam unggahan viral tersebut. Klarifikasi ini menjadi penegasan bahwa informasi itu tidak memiliki dasar yang valid.

“Konten tersebut merupakan hasil rekayasa dan penyuntingan, bukan pernyataan resmi,” demikian disampaikan dalam unggahan klarifikasi yang dikutip pada 10 April 2026.

Fenomena ini kembali menyoroti maraknya penyebaran disinformasi yang memanfaatkan isu sensitif, khususnya terkait agama. Konten semacam ini dinilai berbahaya karena dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat yang majemuk.

Indonesia sendiri selama ini dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan toleransi antarumat beragama. Narasi yang bersifat provokatif dan memecah belah dinilai tidak mencerminkan kondisi sosial yang sesungguhnya.

Pengamat komunikasi digital menilai bahwa penyebaran konten semacam ini kerap dilakukan untuk menciptakan kegaduhan serta memanfaatkan emosi publik. “Isu agama sangat mudah memancing reaksi. Karena itu, disinformasi sering dikemas dengan narasi yang provokatif,” ujarnya.

Di sisi lain, masyarakat diingatkan untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, terutama yang bersumber dari tangkapan layar tanpa konteks yang jelas.

Upaya literasi digital dinilai menjadi kunci penting dalam menghadapi derasnya arus informasi di media sosial. Publik diimbau untuk selalu memeriksa kebenaran sumber sebelum menyebarkan kembali suatu konten.

Tutup