Harga CPO Malaysia Melemah
Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia bergerak melemah pada perdagangan Senin siang, 25 Mei 2026. Tekanan datang dari penurunan harga minyak nabati pesaing di pasar global hingga anjloknya harga minyak mentah dunia yang memengaruhi sentimen perdagangan komoditas.
Berdasarkan perdagangan di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO acuan pengiriman Agustus tercatat turun 48 Ringgit atau sekitar 1,07 persen ke level 4.438 Ringgit per ton metrik. Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan yang sebelumnya sudah membayangi pasar sawit Asia dalam beberapa hari terakhir.
Pelaku pasar menilai koreksi harga sawit dipicu kombinasi faktor eksternal yang terjadi secara bersamaan. Salah satu faktor utama berasal dari melemahnya harga minyak nabati di Bursa Dalian, China, yang selama ini menjadi acuan penting perdagangan komoditas minyak nabati global.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat turun 0,97 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama ikut terkoreksi 0,78 persen. Persaingan ketat antarproduk minyak nabati membuat pergerakan harga di China langsung memberi pengaruh terhadap pasar CPO Malaysia.
Selain itu, investor juga tengah menunggu data ekspor produk sawit Malaysia periode 1 hingga 25 Mei yang akan dirilis perusahaan survei kargo. Data tersebut dinilai penting untuk melihat kekuatan permintaan global dalam jangka pendek, khususnya dari negara-negara importir utama seperti India dan China.
Tekanan tambahan datang dari pasar energi dunia. Harga minyak mentah global dilaporkan turun hingga sekitar 6 persen dan menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir setelah muncul optimisme terkait peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Kondisi itu membuat daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel ikut melemah. Saat harga minyak mentah turun, margin keekonomian biodiesel berbasis sawit menjadi kurang kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.
Dari sisi mata uang, penguatan Ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat turut menjadi sentimen negatif bagi pasar sawit. Mata uang Ringgit tercatat menguat sekitar 0,3 persen sehingga membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.





