Gubernur BI: Rupiah Tak Cerminkan Kekuatan Ekonomi
Bank Indonesia menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya sorotan terhadap pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi domestik.
“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” ujarnya saat konferensi pers, belum lama ini.
Pernyataan ini mencuat setelah sejumlah laporan menempatkan rupiah dalam jajaran mata uang dengan kinerja terlemah secara global.
Dalam daftar tersebut, rupiah disebut berada dalam kelompok bersama mata uang seperti rial Iran, pound Lebanon, dong Vietnam, dan kip Laos.
Meski demikian, otoritas moneter menilai perbandingan tersebut tidak bisa dilihat secara sederhana tanpa mempertimbangkan faktor eksternal yang sedang terjadi.
Tekanan global, termasuk penguatan dolar Amerika Serikat serta ketidakpastian pasar keuangan internasional, disebut menjadi faktor dominan yang menekan nilai tukar negara berkembang.
Dalam konteks ini, rupiah dinilai lebih banyak terdampak sentimen global dibandingkan persoalan fundamental dalam negeri.
Bank Indonesia menegaskan bahwa indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan, mulai dari pertumbuhan ekonomi, neraca perdagangan, hingga cadangan devisa yang relatif stabil.
Namun demikian, klaim undervalued tersebut juga memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar: sejauh mana pasar percaya terhadap narasi fundamental jika tekanan eksternal terus berlanjut?
Di sisi lain, Bank Indonesia menyatakan akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga kepercayaan investor.
Intervensi di pasar valuta asing serta penguatan kebijakan moneter menjadi instrumen utama yang disiapkan untuk meredam volatilitas.





