BBM di Asia Naik, Subsidi Indonesia Masih Bertahan

Petugas SPBU Pertamina. Foto: Antara

Kenaikan tajam harga energi global mulai dirasakan negara-negara Asia Tenggara. Harga minyak acuan dunia Brent Crude Oil kini bertengger di sekitar 100 dolar AS per barel, melonjak signifikan dibandingkan posisi bulan lalu yang masih berada di kisaran 60–70 dolar AS. Lonjakan ini dipicu ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah yang belum mereda.

Dampaknya, sejumlah negara di kawasan bergerak cepat menyesuaikan harga bahan bakar non-subsidi guna menjaga stabilitas pasokan dan beban fiskal.

Di Thailand, kenaikan harga dilakukan oleh perusahaan energi seperti PTT Public Company Limited dan Bangchak Corporation. Bensin dan gasohol mengalami penyesuaian sekitar 1 baht per liter, sementara diesel naik tipis di bawah 1 baht per liter.

Kondisi lebih tajam terjadi di Vietnam. Dalam waktu singkat, harga bensin RON95 melonjak di atas 20 persen, sedangkan diesel meningkat lebih tinggi lagi. Kenaikan bertahap sejak akhir Februari menunjukkan tekanan harga yang terus berlanjut di negara tersebut.

Di Singapura, penyesuaian harga dilakukan secara bertahap oleh pelaku industri seperti Shell dan Singapore Petroleum Company. Kenaikan terjadi dalam skala kecil, namun konsisten mengikuti tren global.

Sementara itu, Malaysia mencatat lonjakan cukup signifikan, khususnya untuk BBM non-subsidi. Harga bensin RON97 dan diesel naik cukup tajam, meski pemerintah masih menjaga harga RON95 agar tetap stabil melalui skema subsidi.

Berbeda dengan negara lain, Indonesia memilih menahan perubahan harga dalam waktu dekat. Kebijakan penyesuaian yang dilakukan setiap awal bulan membuat harga relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir.

Meski begitu, tekanan global tetap terasa. Pada Maret 2026, PT Pertamina (Persero) telah lebih dulu menaikkan harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax dan varian lainnya. Langkah serupa juga diikuti oleh operator swasta seperti Shell, BP, dan Vivo Energy.

Untuk BBM bersubsidi, pemerintah masih mempertahankan harga guna melindungi daya beli masyarakat. Pertalite dan solar subsidi tetap berada di level sebelumnya tanpa perubahan.

Perbedaan respons antarnegara ini mencerminkan strategi masing-masing pemerintah dalam menghadapi tekanan harga energi global, antara menjaga stabilitas ekonomi domestik dan menyesuaikan beban fiskal di tengah ketidakpastian yang terus berkembang.

Tutup