Bagi Perempuan, Simak Baik-Baik Sebelum Menentukan Pilihan Pasangan

Ilustrasi Pasangan.

Terkenal.co.id – Pada saat ini banyak wanita yang sangat termotivasi atau sangat terdorong oleh konten-konten yang ada pada sosial media mereka, dan selalu menampilkan bahwa pernikahan itu idealis, indah atau sesuai dengan ekpetasi yang ditampilkan oleh para influencer atau konten-konten yang ada pada sosial media, padahal pernikahan tidak sederhana seperti itu.

Dan jika hanya mengadalkan potongan -potongan ayat kemudian kita berpikir sudah memahami agama dengan benar dan sangat sempurna maka hal seperti itu juga sangat salah.

Pernikahan itu tidak semudah dibayangkan, dipikirkan atau yang ditampilkan dalam sosial media bahwa konteks pernikahan saat ini dimana saat ini banyak orang yang tergesa-gesa menikah karena banyak tetangga yang menikah.

Teman-temanya sudah menikah atau sudah wisuda dan masih banyak lain sebagainya, sehingga pernikahan itu tidak dijalankan karena suatu intuisi dari perasaan jadi pernikahan menjadi suatu pernikahan kesalahan yang disengajakan.

Mengapa pernikahan suatu kesalahan yang disengajakan ada dua poin, yang pertama yaitu keseriusan, istilah ini yang sering muncul dan dijadikan sebagai dasar mengapa seorang perempuan menerima seorang laki-laki dengan hanya bermodal ‘’AKU SERIUS DENGAN KAMU, AKU INGIN MENIKAH DENGAN KAMU’’ tanpa disadari wanita pernikahan itu bukan tentang dia yang serius atau kita sendiri yang serius tapi keserius bersama.

Artinya, Ketika wanita menerima seorang laki-laki dengan hanya karena serius dengannya secara tidak langsung Wanita mengafirmasi atau menerima bahwa wanita adalah objek yang di dapatkan oleh laki-laki.
Sederhananya jika memang laki-laki serius dan kenyataannya memang dia serius ingin mendaptkan kamu dalam suatu pernikahan bayangkan maling jika ingin mengambil sesuatu itu juga serius.

koruptor  jika ingin korupsi juga serius maka dari itu jika seseorang ingin melakukan sesutu dan mendaptkanya biasanya dilakukan dengan serius, jika seorang laki-laki mengatakan aku serius ingin menikahi kamu artinya dia ingin mendaptkan kamu tapi dalam ranah pernikahan.

Pernikahan bukanlah finaly pernikahan itu adalah suatu proses suatu fase selanjutnya karena wanita harus mandiri dan hidup bersama pasangan, wanita harus menyadari bahwa didalam pernikahan wanita bukanlah objek.

Jika kita berpikir tentang keseriusan, semua yang ingin kita dapatkan kita pasti akan menyikapi dengan serius, penipu saja dalam berbicara dia serius dan menyakini targetnya agar mempercayainya.

Jika seperti ini defisini kita dalam memilihan pasangan, harus diubah jangan memilih lelaki karena dia hanya serius kepada diriimu, carilah laki-laki yang karakternya sesuai dengan dengan yang kita inginkan dan jika Wanita sulit memahami karakter seseorang carilah yang sefrekuensi dalam becanda, ngobrol, debat atau bahkan pertengaran.

Dari situ kita akan menemukan kecocokan dan melihat karakternya tersendiri dan Ketika memahami karakter laki-laki, Wanita otomatis akan menerima segala kekurangannya dan didalam pernikahan kekurangan pasangan akan muncul semuanya. Wanita sudah menerima kekurangan laki-laki dan laki-laki menerima kekurangan Wanita.

Pentingnya karakter dan frekuensi adalah yang akan membuat kekal dalam pernikahan seseorang lebih dari uang, materi, fisik dan frekuensi karakter mempunyai poin lebih dari itu, Ketika Wanita dan laki-laki lanjut usia ( tua ) wajah yang keriput dan tidak dapat dimanipulasi lagi.

Atau sudah meiliki kekayaan lebih pasti akan merasa bosan dengan hal itu, apa yang akan kita cari saat usia lanjut, makan tidak enak  melakukan kegiatan akan terbatas dan bahkan memiliki kekayaan saat tua kita tidak bisa menikmati sepenuhnya apayang akan kita nikmati dengan pasangan saat tua nanti.

Frekuensi dan karakterlah yang akan menjadi kesenangan, obrolan-obrolan becanda itulah yang akan kita nikmati, Jika sudah dalam ranah pernikahan bukan menentukan siapa objek dan siapa subjek bukan siapa yang menseriusi dan bukan siapa yang diseriusi dan dalam pernikahan bukanlah tentang keseriusan tapi kesiapan kita dalam fase kehidupan dengan pasangan.

 

Penulis : Jumroni / UIN SMH Banten

Editor : Hilal Alfath

Berita Lainnya

Tutup