Minum Kopi Pagi Hari Bisa Bikin Lancar BAB?
Kesulitan buang air besar (BAB) atau sembelit dapat mengganggu kenyamanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Salah satu kebiasaan yang dapat membantu merangsang pergerakan usus pada sebagian orang adalah minum kopi, terutama pada pagi hari.
Dokter spesialis gastroenterologi Supriya Rao menjelaskan bahwa kopi dapat merangsang kontraksi otot usus besar. Gerakan otot tersebut berperan mendorong tinja melalui saluran pencernaan hingga siap dikeluarkan dari tubuh.
“Banyak orang dapat mengonsumsinya dengan baik, dan kopi bisa membantu merangsang pergerakan usus besar melalui kontraksi otot yang mendorong tinja bergerak,” kata Rao, sebagaimana dikutip dari EatingWell.
Senada dengan itu, dokter spesialis gastroenterologi Edmundo Rodriguez-Frias menyebut sejumlah penelitian menemukan bahwa kopi dapat meningkatkan kontraksi usus besar dalam hitungan menit setelah dikonsumsi.
Efek tersebut dalam penelitian tertentu dilaporkan lebih kuat dibandingkan air putih. Namun, respons setiap orang dapat berbeda dan efek serupa tidak selalu ditemukan secara konsisten pada kopi tanpa kafein atau decaf.
Kopi Berpengaruh terhadap Hormon Pencernaan
Selain merangsang gerakan usus, kopi juga diketahui dapat memengaruhi hormon yang terlibat dalam proses pencernaan, termasuk gastrin dan kolesistokinin.
Menurut Rodriguez-Frias, penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi dapat meningkatkan kadar kedua hormon tersebut.
Gastrin berperan dalam mengatur aktivitas lambung sekaligus merangsang produksi asam lambung yang membantu proses pencernaan, termasuk pemecahan protein.
Sementara itu, kolesistokinin berperan dalam merangsang pelepasan enzim pencernaan dari pankreas serta membantu proses pencernaan lemak dan protein melalui mekanisme yang melibatkan sistem empedu.
Pengaruh kopi terhadap aktivitas usus dan hormon pencernaan tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa ingin BAB setelah meminumnya. Meski demikian, kopi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kelancaran pencernaan.
Tingkatkan Asupan Serat secara Bertahap
Selain memperhatikan kebiasaan minum kopi, menjaga asupan serat merupakan langkah penting untuk membantu mencegah sembelit.
Serat dapat menambah volume tinja dan membantu mempertahankan teksturnya agar lebih mudah dikeluarkan. Sumber serat dapat diperoleh dari buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, serta biji-bijian utuh.
Rodriguez-Frias menyarankan agar peningkatan asupan serat dilakukan secara bertahap, terutama bagi orang yang sebelumnya jarang mengonsumsi makanan berserat.
“Jika sebelumnya serat hampir tidak ada dalam pola makan, sebaiknya tambahkan secara bertahap,” ujarnya.
Menambah serat dalam jumlah besar secara mendadak dapat memicu gas berlebih, perut kembung, dan rasa tidak nyaman. Karena itu, tubuh perlu diberi waktu untuk menyesuaikan diri.
Asupan cairan juga perlu diperhatikan. Air membantu serat bekerja dengan baik, terutama dalam menjaga tekstur tinja agar tidak terlalu keras. Mengonsumsi makanan berserat tanpa mencukupi kebutuhan cairan justru dapat memperburuk sembelit pada sebagian orang.
Jangan Abaikan Keinginan untuk BAB
Kebiasaan menunda buang air besar juga dapat membuat proses pengeluaran tinja semakin sulit. Ketika dorongan untuk BAB berulang kali diabaikan, tinja dapat bertahan lebih lama di usus besar sehingga lebih banyak air diserap dan teksturnya menjadi lebih keras.
Rodriguez-Frias mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap sembelit.
“ Mengabaikan dorongan untuk buang air besar secara berulang dapat berkontribusi terhadap sembelit,” katanya.
Karena itu, sebaiknya segera menuju toilet ketika muncul dorongan untuk BAB. Membiasakan waktu ke toilet secara teratur, termasuk pada pagi hari, juga dapat membantu membangun rutinitas buang air besar.
Kapan Waktu yang Tepat Minum Kopi?
Sebagian orang merasa lebih mudah BAB setelah minum kopi pada pagi hari. Hal ini dapat berkaitan dengan refleks gastrokolik, yakni respons alami tubuh yang meningkatkan aktivitas usus besar setelah makan atau minum.
Kopi dapat merangsang respons tersebut pada sebagian orang. Mengonsumsinya bersamaan dengan sarapan juga dapat membantu memicu aktivitas saluran pencernaan.
Namun, minum kopi tidak selalu membuat seseorang langsung BAB. Respons tubuh dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola makan, kecukupan cairan, aktivitas fisik, kebiasaan buang air besar, dan sensitivitas terhadap kafein.
Kopi juga dapat menimbulkan keluhan pada sebagian orang, seperti jantung berdebar, gangguan tidur, atau gejala asam lambung. Karena itu, konsumsinya perlu disesuaikan dengan toleransi masing-masing.
Jika sembelit berlangsung lama, sering berulang, atau disertai nyeri perut hebat, muntah, darah pada tinja, maupun penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Pada akhirnya, kopi dapat menjadi salah satu pemicu BAB bagi sebagian orang, tetapi bukan solusi tunggal untuk mengatasi sembelit. Pola makan seimbang, asupan serat dan cairan yang cukup, serta kebiasaan BAB yang teratur tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan pencernaan.


