Viral Film Pesta Babi, Mamah Papua Buka Suara
Tokoh perempuan Papua yang dikenal sebagai “Mamah Papua”, Yasinta Moiwen, mengaku merasa dijebak oleh sebuah LSM yang memproduksi film dokumenter berjudul Pesta Babi. Pengakuan tersebut disampaikan Yasinta melalui video klarifikasi yang viral di media sosial dan langsung memicu perhatian publik.
Dalam pernyataannya, Yasinta mengaku awalnya datang karena mendapat undangan menghadiri kegiatan budaya dan syukuran adat. Ia sama sekali tidak mengetahui dirinya sedang direkam untuk kebutuhan dokumenter yang kemudian beredar luas di publik.
“Saya datang karena diundang untuk acara syukuran adat. Tidak tahu kalau direkam diam-diam, lalu dipotong untuk kepentingan mereka,” ujar Yasinta dalam video klarifikasinya.
Menurutnya, kegiatan yang diikutinya semula disebut sebagai bagian dari upaya mengangkat harkat perempuan Papua melalui pendekatan budaya. Namun, setelah film tersebut beredar, ia merasa narasi yang ditampilkan justru tidak sesuai dengan nilai yang diyakininya.
“Saya pikir ini kegiatan budaya untuk angkat harkat perempuan Papua. Ternyata video yang beredar hanya potongan dua menit yang dipelintir. Narasinya seolah saya kampanye hal yang bertentangan dengan nilai yang saya pegang,” katanya.
Yasinta juga mengungkapkan dirinya sempat dibawa ke Wamena untuk mengikuti proses syuting sebuah acara yang disebut sebagai “pesta”. Namun, ia mengaku tidak pernah dijelaskan secara utuh mengenai tujuan produksi film tersebut.
“Demi Tuhan, saya tidak tahu. Tujuan buat itu saya tidak tahu. Saya dibohongin,” ungkapnya sambil menahan emosi.
Tak hanya itu, Yasinta membantah tudingan bahwa dirinya menerima bayaran besar dari keterlibatannya dalam film dokumenter tersebut. Ia mengaku hanya sempat diinapkan selama beberapa hari di hotel di Makassar sebelum dipulangkan tanpa menerima bantuan sebagaimana yang dijanjikan.
“Mereka sampaikan janjikan mau kasih uang, tapi tidak ada. Saya tidak dapat apa-apa,” tegasnya.
Ia juga menilai proses produksi film dilakukan tanpa prosedur yang terbuka. Menurut Yasinta, pihak LSM tidak pernah meminta izin tertulis, tidak menjelaskan keseluruhan konsep produksi, hingga tidak memberinya kesempatan melihat hasil akhir video sebelum dipublikasikan.
“Saya tidak dibayar sepeser pun. Saya hadir sebagai mama, sebagai tokoh adat. Kalau tahu videonya akan dipakai untuk memecah belah, saya tidak akan datang,” ucapnya.
Perempuan yang dikenal aktif dalam kegiatan adat dan pemberdayaan perempuan Papua itu mengaku kecewa karena nama baik dirinya serta komunitas mama-mama Papua ikut terseret dalam polemik yang muncul setelah film tersebut viral di media sosial.
“Kami di Papua sudah cukup luka. Jangan bawa nama kami untuk kepentingan yang kami tidak pahami,” pungkas Yasinta.




