Investor Cermati Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026), sementara pasar saham global justru menunjukkan penguatan. Pelaku pasar saat ini tengah mencermati perkembangan pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas geopolitik dan arah ekonomi global.
Minyak mentah acuan global Brent crude tercatat turun sekitar 0,7 persen ke level 107 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 0,9 persen menjadi 101,2 dolar AS per barel.
Pelemahan tersebut menghentikan reli harga minyak yang sebelumnya berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Pasar mulai merespons meningkatnya ketidakpastian terkait peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Analis dari Deutsche Bank menilai kekhawatiran pasar terhadap memudarnya peluang kesepakatan AS-Iran menjadi salah satu faktor utama yang memicu koreksi harga minyak.
Di sisi lain, pasar saham global mulai bergerak positif setelah sebelumnya tertekan oleh data inflasi Amerika Serikat yang tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Kontrak berjangka indeks saham utama AS seperti S&P 500 dan Nasdaq mengindikasikan pembukaan perdagangan yang lebih kuat. Bursa saham di kawasan Eropa juga tercatat menguat pada awal perdagangan.
Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan memimpin penguatan di kawasan, meskipun pasar saham Taiwan masih mengalami tekanan dan ditutup melemah.
Analis senior Hargreaves Lansdown, Matt Britzman, mengatakan pasar saham global saat ini mencoba bangkit, namun sentimen investor masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, investor juga terus memantau perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China, termasuk hasil pembicaraan antara Donald Trump dan Xi Jinping yang dinilai dapat menentukan arah pasar keuangan global dalam waktu dekat.
“Pasar masih bergerak hati-hati karena investor menunggu kepastian terkait konflik Timur Tengah dan hubungan dagang AS-China,” ujar Britzman.



