Pejabat Mulai Kurangi Kendaraan Dinas, Energi Dihemat
Pemerintah memperkuat langkah reformasi sektor transportasi dengan fokus pada peningkatan layanan angkutan umum dan perubahan pola mobilitas masyarakat. Kebijakan ini ditempuh sebagai respons atas potensi krisis energi global yang dipicu dinamika geopolitik serta tingginya ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Dorongan tersebut tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga kalangan pejabat negara. Pemerintah menilai perubahan perilaku penggunaan kendaraan menjadi bagian penting dalam strategi penghematan energi nasional.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa kualitas transportasi publik harus ditingkatkan agar mampu menjadi pilihan utama masyarakat. Hal ini ia sampaikan di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 8 April 2026.
Menurutnya, keandalan, kenyamanan, serta keterjangkauan transportasi massal menjadi faktor penentu dalam mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke moda umum.
“Perbaikan transportasi publik menjadi kunci. Kalau layanannya baik, masyarakat dengan sendirinya akan beralih,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah mulai melakukan penyesuaian internal dengan mengurangi penggunaan kendaraan dinas di kalangan pejabat. Langkah ini dipandang sebagai bentuk konkret efisiensi sekaligus contoh bagi masyarakat luas.
Kebijakan tersebut juga sejalan dengan agenda besar transisi energi menuju sumber yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan energi berbasis fosil secara bertahap akan ditekan, khususnya di sektor transportasi.
Selama ini, kebutuhan energi transportasi masih sangat bergantung pada minyak bumi, batu bara, dan gas. Namun, tekanan global akibat keterbatasan pasokan serta ketegangan di kawasan Timur Tengah mendorong percepatan perubahan kebijakan energi nasional.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, pemerintah terus mendorong pengembangan kendaraan listrik. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan fasilitas produksi mobil listrik di Magelang sebagai simbol komitmen terhadap energi bersih.
Prasetyo menekankan bahwa transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut perubahan budaya kerja dan gaya hidup. “Kita perlu mengubah kebiasaan, termasuk cara bekerja dan mobilitas sehari-hari,” katanya.
Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menggulirkan kebijakan transformasi budaya kerja nasional. Program ini mencakup penerapan kerja fleksibel seperti work from home (WFH), penghematan energi, hingga dorongan penggunaan transportasi umum.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap konsumsi energi dapat ditekan secara signifikan sekaligus mempercepat peralihan menuju sistem energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.




