Tak Perlu Canggung, Ini Cara Menyapa Teman Lama
Hubungan persahabatan yang dahulu dekat tidak selalu bertahan dengan intensitas yang sama sepanjang waktu. Perubahan pekerjaan, rutinitas, lingkungan, hingga arah kehidupan masing-masing dapat membuat dua orang yang sebelumnya sering bersama perlahan kehilangan komunikasi.
Konselor kesehatan mental sekaligus psikoterapis Daryl Appleton menjelaskan, banyak persahabatan terbentuk karena adanya rutinitas dan lingkungan yang mempertemukan seseorang secara berulang.
Menurutnya, ketika rutinitas tersebut berakhir, hubungan pertemanan akan menghadapi perubahan. Situasi itu dapat memperlihatkan apakah kedekatan yang terjalin selama ini memang didasarkan pada hubungan personal atau lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan bersama.
Pandangan serupa disampaikan terapis Cheryl Groskopf. Ia mengatakan persahabatan membutuhkan konsistensi, kedekatan, dan pengalaman yang dibangun bersama. Ketika kesempatan untuk bertemu semakin berkurang, interaksi alami yang sebelumnya menjaga hubungan tetap dekat juga ikut menghilang.
Selain perubahan aktivitas, persahabatan dapat merenggang akibat persoalan kecil yang tidak pernah diselesaikan. Kesalahpahaman yang menumpuk, komunikasi yang semakin jarang, atau perbedaan prioritas bisa membuat hubungan perlahan menjauh.
Meski demikian, tidak semua persahabatan yang terputus harus berakhir selamanya. Selama masih ada keinginan dari kedua pihak, hubungan lama tetap memiliki peluang untuk diperbaiki.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah membuka komunikasi secara sederhana dan tulus. Appleton menyarankan agar seseorang tidak merasa harus menyusun permintaan maaf panjang atau mengungkit seluruh persoalan masa lalu ketika ingin kembali menghubungi teman lama.
“Satu kalimat jujur tentang alasan Anda memikirkan mereka jauh lebih berarti daripada satu paragraf permintaan maaf,” kata Appleton seperti dikutip dari Real Simple.
Mengawali percakapan melalui pesan ringan juga bisa menjadi pilihan. Misalnya, menanyakan kabar, membagikan sesuatu yang mengingatkan pada teman tersebut, atau menyebutkan kenangan menyenangkan yang pernah dialami bersama.
Groskopf menilai pesan yang spesifik dan personal dapat membantu mencairkan suasana. Kenangan tertentu atau lelucon yang hanya dipahami oleh kedua pihak bisa menjadi pembuka komunikasi yang terasa lebih alami.
Jika selama ini menjadi pihak yang lebih dahulu menjauh atau jarang memberikan kabar, keterbukaan juga penting. Appleton menyarankan agar seseorang mengakui hal tersebut secara jujur tanpa perlu membesar-besarkan keadaan.
Mengambil tanggung jawab atas sikap sendiri dapat membantu mengurangi kecanggungan ketika kembali berkomunikasi. Dengan begitu, kedua pihak memiliki kesempatan untuk membangun hubungan tanpa terus terjebak pada persoalan siapa yang seharusnya menghubungi atau meminta maaf lebih dahulu.
Pada akhirnya, memulihkan persahabatan bukan berarti harus mengembalikan hubungan persis seperti dahulu. Setiap orang mengalami perubahan, sehingga kedekatan yang dibangun kembali perlu menyesuaikan kondisi dan kehidupan masing-masing. Hal terpenting adalah adanya ketulusan, komunikasi terbuka, serta kesediaan untuk saling menghargai.




