Mantap! Ketua Dewan Pers Apresiasi Asosiasi Perusahaan Pers JMSI

Ninik Rahayu mengapresiasi model klaster bintang yang digunakan JMSI untuk memandu anggota menjadi perusahaan pers yang profesional.

Walau baru berusia empat tahun namun melihat apa yang telah dilakukan sejauh ini, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) yang dideklarasikan pada tanggal 8 Februari 2020 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tampak seperti organisasi yang sudah cukup lama berdiri.

“Seperti organisasi yang sudah berusia 40 tahun,” ujar Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu mengawali sambutannya pada Malam Anugerah JMSI Award 20204 yang diselenggarakan di Hotel Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin malam (19/2).

Mengapa Ketua Dewan Pers memiliki penilaian seperti itu terhadap JMSI?

Menurut Ketua Dewan Pers, karena fungsi-fungsi organisasi JMSI bisa dijalankan secara maksimal.

“Bukan hanya meng-collect anggota, menambah jumlah anggota, tetapi menjalankan roda organisasi dilakukan dengan upaya agar seluruh anggota merasa diposisikan secara profesional. Banyak sekali hal-hal, inovasi, yang dilakukan jajaran kepengurusan JMSI dalam memberdayakan anggotanya. Dan itulah salah satu fungsi dari sebuah perkumpulan,” urai Ninik Rahayu.

Dia melanjutkan, “Dari sebelas konstituen Dewan Pers, JMSI yang menurut saya sangat-sangat produktif, karena bukan hanya mengembangkan profesionalisme anggotanya. Tetapi juga menyatukan kerja-kerja anggotanya menjadi kerja-kerja sosial.

Ninik Rahayu juga mengatakan, JMSI menjalankan tanggung jawab penuh dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggotanya. JMSI juga dinilai sangat menghargai upaya meningkatkan profesionalisme perusahaan pers di bawah naungan JMSI.

Ninik Rahayu mengapresiasi model klaster bintang yang digunakan JMSI untuk memandu anggota menjadi perusahaan pers yang profesional.

Di mana bintang satu diberikan kepada anggota yang baru sekadar memiliki dokumen legal sebagai perusahaan media siber.

Sementara bintang dua diberikan kepada yang telah mendatakan diri ke Dewan Pers. Lalu bintang tiga dan bintang empat diberikan kepada anggota yang telah terverifikasi secara administratif dan faktual oleh Dewan Pers.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pers ikut memberikan respon atas perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligent yang sedang ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Teknologi AI telah dipandang sebagai satu tantangan yang khas oleh praktisi pers, baik perusahaan maupun wartawan.

Menurut Ninik Rahayu, teknologi AI hanya dapat mengerjakan jurnalistik yang teknis, tetapi tidak dapat menggantikan jurnalisme.

“Karena jurnalismes membutuhkan rasa, nilai yang itu tidak dimiliki artificial intelligent,” katanya.

Tutup