Soal Direct License Royalti, Ini yang Disorot Posan Tobing ke LMKN

Posan Tobing. FOTO: Dok/Trans 7

Posan Tobing menanggapi pernyataan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) yang menyebut direct license sebagai cara penghimpunan royalti performing rights bertentangan dengan Undang-Undang yang berlaku.

Melalui unggahan Instagram Stories, eks drumer Kotak itu menyatakan kesediaannya untuk menjalani hukuman jika memang apa yang dikatakan LMKN benar.

“Untuk LMKN yang terhormat. Saya rela dipenjara atau didenda 1M (sesuai dengan yang anda katakan di hadapan media) demi membela hak saya dan melindungi karya saya, yang hasilnya akan saya berikan nafkah untuk makanan halal keluarga saya dan sekolah anak-anak saya,” tulis Posan Tobing melalui Instagram, Rabu, 17 Januari.

“Karya saya digunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab sehingga saya mengalami kerugian besar. Trus saya harus diam aja!!!” lanjutnya.

Posan mengaku karyanya digunakan musisi lain tanpa memberi keuntungan untuk dirinya sebagai penulis lagu.

“TERUS SAYA HARUS DIAM AJA. COME ON!!!!!!!” tulisnya.

Mencoba melindungi karyanya sebagai penulis lagu, Posan Tobing mengaku pernyataan LMKN membuatnya merasa terancam.

“TAPI JUJUR SAJA, PERNYATAAN DARI LMKN YANG TERHORMAT TERSEBUT MEMBUAT SAYA SEBAGAI PENGARANG LAGU MERASA TERANCAM ALIAS SEPERTI DITAKUT-TAKUTIN. SEDANGKAN SAYA HANYA MAU MELINDUNGI KARYA SAYA SENDIRI,” tandasnya.

Unggahan Posan Tobing itu juga diunggah kembali oleh beberapa penulis lagu yang tergabung dalam Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI), seperti Ahmad Dhani dan Mario Kacang.

Sumber: VOI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup