OPINI: Polemik Kawasan Industri Brebes dari Puluhan Pabrik Tak Kantongi Izin Hingga Dihentikan Sebagai Proyek Strategis Nasional

terkenal.co.id – Laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Brebes bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Mata pencaharian masyarakat pesisir pantai utara Jawa, tepatnya di Kabupaten Brebes masih mengandalkan dari sektor pertanian, perkebunan maupun perikanan.

Kabupaten Brebes menjadi salah satu wilayah yang di proyeksikan menjadi kawasan industri.

Penetapan Kawasan Industri Brebes (KIB) sebagai proyek strategis nasional (PSN) ini tercantum dalam Pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi Jawa Tengah.

Dalam peraturan tersebut disebutkan, pemerintah pusat menyiapkan anggaran sebesar Rp 2 triliun untuk pembebasan lahan pembangunan Kawasan Industri Brebes.

Tepat pada 2020, Kawasan Industri Brebes memiliki luas lahan seluas 3.976 hektar yang disiapkan pemerintah untuk menangkap peluang dari rencana relokasi industri sejumlah negara.

Dikabarkan bahwa Kawasan Industri Brebes saat ini tidak masuk dalam skema proyek strategis nasional. Kendati demikian, pemerintah daerah setempat berkomitmen akan terus melanjutkan pembangunan dengan skema lain, salah satunya pengelolaan swasta.

Terdapat berbagai polemik dalam perwujudan Kawasan Industri Brebes dari mulai puluhan pabrik yang belum mengantongi izin resmi hingga dihentikannya sebagai proyek strategis nasional.

Gawat! Puluhan Perusahaan di Kabupaten Brebes Diduga Tak Miliki Izin

Jika ditilik dari dampak positifnya, pembangunan kawasan industri Brebes dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada sektor industri yanh menjadi salah satu sektor paling berperan.

Dengan hadirnya pembangunan kawasan industri diharapkan dapat meningkatkan perekonomian daerah setempat yang berdampak pada peningkatan perekonomian nasional.

Namun, banyaknya temuan di lapangan terkait adanya dugaan puluhan pabrik yang belum mengantongi izin secara resmi, apakah berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Pasalnya hal tersebut tentu menjadi salah satu upaya hilangnya potensi terkait retribusi daerah.

Perlu diketahui bahwa Kabupaten Brebes merupakan kabupaten terluas di Jawa Tengah yang memiliki lokasi strategis dengan lintang pantai utara hal ini mempermudah dalam sarana transportasi seperti tol trans jawa, serta pelabuhan tegal dan cirebon.

Dengan potensi tersebut, pemerintah daerah berupaya menyiapkan lahan seluas 3.976 hektar sebagai kawasan industri yang berada di tiga kecamatan yang meliputi Bulakamba, Tanjung, dan Losari.

Sebelumnya direncanakan bahwa Kawasan Industri Brebes ditargetkan terdiri dari beberapa kluster yang terdiri dari kawasan industri, tekstil dan produk tekstil, kulit dan alas kaki, makanan dan minuman, industri mebel, farmasi dan alat kesehatan.

Tujuan adanya Kawasan Industri Brebes ini diharapkan dapat menjadikan Kabupaten Brebes sebagai kawasan industri baru yang akan mendorong pertumbuhan investasi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat serta mengurangi angka kemiskinan.

Keuntungan pengembangan Kawasan Industri Brebes ini diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan, maka secara bersamaan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Namun faktanya, angka pengangguran di Brebes setiap tahun selalu meningkat. Menurut Badan Pusat Statistika (BPS) Kabupaten Brebes, pada tahun 2021 angka pengangguran di Brebes mencapai 9,78%. Brebes, hal ini menjadikan kabupaten Brebes sebagai kabupaten dengan jumlah pengangguran tertinggi di Jawa Tengah.

Keuntungan adanya Kawasan Industri Brebes yaitu mengurangi arus urbanisasi. Namun faktanya, banyak masyarakat yang melakukan urbanisasi karena ditempat tinggal sendiri kekurangan lapangan pekerjaan sehingga masyarakat menargetkan kota lain sebagai tempat mencari kerja.

Selain itu, kabupaten Brebes menjadi salah satu daerah dengan angka kemiskinan ekstrem tertinggi di Jawa Tengah. Sebanyak 187.000 warga berpenghasilan Rp 11.300 per hari dan menempati rumah tidak layak huni. Penyebab angka kemiskinan di Brebes salah satunya karena angka pengangguran yang tinggi.

Penulis: Mishbahul Anam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup