Rencana Penghapusan Pertalite, Organda Kabupaten Bekasi Mengeluh
BEKASI – Pemerintah berencana bakal menghapuskan Premium dan Pertalite dari pasaran dalam rangka transisi energi. Padahal, masyarakat saat ini masih berjuang di tengah sulitnya ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19.
Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Soerjaningsih mengatakan, Indonesia kini memasuki masa transisi, di mana Premium akan digantikan Pertalite. Ini merupakan tahap menuju penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan.
“Kita memasuki masa transisi di mana Premium (RON 88) akan digantikan dengan Pertalite (RON 90), sebelum akhirnya kita akan menggunakan BBM yang ramah lingkungan,” kata dia, dikutip dari laman resmi Ditjen Migas, Rabu (22/12/2021).
Dia menambahkan, pemerintah juga tengah menyusun peta jalan (roadmap) BBM ramah lingkungan, di mana nantinya Pertalite juga akan digantikan dengan BBM yang kualitasnya lebih baik.
“Dengan roadmap ini, ada tata waktu di mana nantinya kita akan menggunakan BBM ramah lingkungan. Ada masa di mana Pertalite harus dry, harus shifting dari Pertalite ke Pertamax,” ujarnya.
Proses shifting Pertalite ke Pertamax ini juga menjadi salah satu bahasan Focus Group Discussion (FGD) agar peralihan ini tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
“Sehingga kita juga mencermati volume Pertalite yang harus disediakan untuk masyarakat,” ucapnya.
Dengan adanya isu tersebut, Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Bekasi tidak sepakat atas pengapusan premium dan pertalite.
“Organda Kabupaten Bekasi tidak setuju atas penghapusan premiun dan pertalite saat ini, karena akan berdampak terhadap biaya operasional BBM yang membengkak, di tengah pemulihan ekonomi yang belum stabil. Hal ini sudah barang tentu akan menyusahkan para pengusaha angkutan kota.”kata Yaya Ropandi, Sekertaris DPC Organda Kabupaten Bekasi, saat dihubungi melalui WhatsApp. Rabu (29/12/2021).
Menurut dia, tidak tepat kondisi pandemi Covid 19 yang belum pulih jika memang premium pertalite akan ada penghapusan.
“Kondisi Pandemi ini sangat memprihatinkan bagi pengusaha angkutan apalagi ada adanya kebijkan jaga jarak sangat berimbas terhadap pendapatan yang semula di waktu normal angkutan kota berpenumpang 11 orang, kini dimusin Pandemi hanya diisi penumpang sebanyak 6 orang sementara operasinal BBM-nya sama”ujarnya dia.
Sekartaris Organda Kabupaten Bekasi, berharap jika nanti nya sah dihapus harus ada kompensasi terhadap pengusaha angkutan dengan perlu adanya skema.
“Apabila betul dihapus premium dan pertalite, pemerintah harus memberikan kompensasi terhadap pengusaha angkutan, nah skema ini perlu buatkan akan pengusaha angkutan tetap. bisa bertahan, misalnya kompensasi kemudahan perbank kan, pajak, onderdill dan lain-lain.”tutupnya.
Reporter: Algi Fari
Editor: Ardi Priana






