Protes BBM Meluas, Warga Filipina Kian Tertekan
Ratusan pekerja sektor transportasi di Filipina kembali melanjutkan aksi mogok pada hari kedua, Jumat (27/3/2026), sebagai bentuk protes atas lonjakan harga bahan bakar yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Aksi terpusat di ibu kota Manila ini dipicu kenaikan harga solar yang disebut meningkat drastis sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari lalu.
Para demonstran, yang mayoritas merupakan sopir angkutan umum seperti jeepney, mendesak pemerintah di bawah kepemimpinan Ferdinand R. Marcos Jr. untuk segera mengambil langkah konkret.
Mereka menuntut penurunan harga BBM, penyesuaian tarif angkutan, serta peningkatan upah guna menekan dampak ekonomi yang semakin berat.
Aksi mogok tersebut berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, dengan ribuan warga dilaporkan kesulitan mendapatkan transportasi.
Pemerintah merespons dengan mengerahkan armada bus tambahan serta menyalurkan bantuan tunai kepada puluhan ribu pengemudi di wilayah terdampak.
Meski skalanya tidak sebesar aksi buruh sebelumnya, gelombang protes ini tetap mencerminkan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat kelas pekerja.
Salah satu sopir jeepney, Jaime Ricafrente (72), mengaku sempat kehilangan harapan setelah tidak masuk dalam daftar penerima bantuan pemerintah.
“Saya merasa tidak punya harapan, tidak ada tempat untuk meminta bantuan,” ujarnya.
Ia akhirnya memperoleh bantuan dari donasi masyarakat setelah kisahnya disiarkan di radio lokal.
Sementara itu, Presiden Marcos menyatakan pemerintah tengah mencari alternatif pasokan energi di luar kawasan konflik.
Salah satu langkah yang diambil adalah mendatangkan sekitar 700 ribu barel minyak mentah dari Rusia untuk menjaga ketersediaan pasokan hingga pertengahan tahun.
Namun, kebijakan tersebut dinilai belum mampu meredam tekanan harga dalam waktu dekat.
Sopir lainnya, Ruelle Roxas Jr. (53), bahkan mengaku mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaannya akibat tingginya biaya operasional.
“Saya tidak mampu lagi membeli solar yang harganya sudah dua kali lipat,” katanya.
Situasi ini turut memicu dinamika politik domestik, dengan kelompok Bayan yang berhaluan kiri menyatakan dukungan terhadap aksi tersebut.
Sekretaris jenderal Bayan, Raymond Palatino, menilai masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak.
“Sebagian besar warga Filipina hanya bisa bertahan hidup di tengah lonjakan harga dan krisis biaya hidup,” ujarnya.




