Usai Lebaran, Ekonomi RI Diprediksi Menguat Berkat Lonjakan Konsumsi

Warga dan pedagang memadati pasar takjil, Jalan Pusdai, Bandung, Jawa Barat. (terkenal.co.id/Muhammad Noer Hikam)

Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 menunjukkan sinyal positif. Sejumlah indikator mengarah pada peningkatan aktivitas ekonomi yang cukup kuat, terutama didorong oleh konsumsi masyarakat yang meningkat sejak pergantian tahun.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini berpotensi mencapai kisaran 5,5 persen secara tahunan. Proyeksi tersebut tidak lepas dari rangkaian momentum hari besar yang secara konsisten mendorong belanja masyarakat.

Menurutnya, sejak periode Natal dan Tahun Baru, aktivitas konsumsi sudah mulai meningkat. Tren tersebut berlanjut pada perayaan Imlek hingga memasuki bulan Ramadan, yang secara historis selalu menjadi fase penguatan daya beli masyarakat.

Wijayanto menyebut, puncak pergerakan ekonomi diperkirakan terjadi saat Idulfitri pada Maret 2026. Momentum Lebaran dinilai menjadi katalis utama yang menggerakkan sektor ritel, distribusi barang, hingga jasa transportasi di berbagai daerah.

“Idulfitri menjadi titik kulminasi dari seluruh rangkaian peningkatan konsumsi tersebut,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa perputaran ekonomi selama periode Lebaran tidak hanya terpusat di kota besar, melainkan menyebar hingga ke daerah. Arus mudik dinilai menjadi faktor penting yang memperluas distribusi uang ke berbagai wilayah.

Fenomena tersebut menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Pelaku usaha kecil, pedagang tradisional, hingga sektor transportasi lokal merasakan dampak langsung dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama musim mudik.

Dengan adanya aliran dana dari kota ke desa, aktivitas ekonomi di tingkat lokal menjadi lebih hidup. Hal ini dinilai berkontribusi dalam menciptakan pertumbuhan yang lebih merata dan inklusif di berbagai wilayah Indonesia.

Di sisi lain, peran pemerintah juga dinilai krusial dalam menjaga momentum tersebut. Berbagai stimulus yang digelontorkan menjelang Lebaran menjadi faktor tambahan yang memperkuat daya beli masyarakat.

Kebijakan bantuan, termasuk pemberian Bonus Hari Raya (BHR) bagi pengemudi ojek daring serta penyaluran bantuan sosial, disebut memberikan dampak nyata bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Dukungan fiskal yang mencapai lebih dari Rp12,8 triliun turut mempertebal optimisme terhadap kinerja ekonomi nasional.

Tutup