Disuntik Dana Besar, Garuda Indonesia Rugi Rp5,42 Triliun

Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia.

Maskapai pelat merah Garuda Indonesia (GIAA) masih mencatatkan kinerja keuangan negatif sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan membukukan rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,42 triliun, meskipun telah menerima dukungan pendanaan jumbo dari pemerintah.

Suntikan dana tersebut berasal dari BPI Danantara dengan total nilai mencapai sekitar Rp23,67 triliun. Dukungan ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan kinerja perusahaan pascarestrukturisasi.

Manajemen menyebut dana tersebut difokuskan untuk mendukung program strategis, terutama perawatan dan reaktivasi armada pesawat yang selama ini belum dapat beroperasi. Selain itu, sebagian dana juga digunakan untuk menyelesaikan kewajiban anak usaha Garuda, yakni Citilink, kepada Pertamina.

Dari total pendanaan tersebut, sekitar 64 persen atau Rp15 triliun dialokasikan untuk Citilink. Sementara itu, Garuda Indonesia memperoleh porsi sekitar Rp8,7 triliun yang difokuskan untuk optimalisasi kesiapan armada hingga akhir 2026.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengungkapkan bahwa pendapatan usaha konsolidasi sepanjang 2025 tercatat sebesar US$3,22 miliar. Angka ini mengalami penurunan sekitar 5,9 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Menurutnya, penurunan tersebut tidak terlepas dari fase konsolidasi operasional yang tengah dijalankan perusahaan guna memperkuat fundamental bisnis jangka panjang.

“Penurunan ini terjadi seiring fase konsolidasi operasional yang tengah dijalankan untuk memperkuat fundamental bisnis perusahaan,” ujar Glenny dalam keterangan resminya.

Selain tekanan dari sisi pendapatan, kinerja perseroan juga dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas produksi, khususnya pada semester pertama 2025. Hal ini disebabkan masih banyaknya armada yang belum siap operasi akibat menunggu jadwal perawatan rutin.

Faktor eksternal turut memperberat beban keuangan perusahaan, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta meningkatnya biaya tetap seiring intensifnya program pemulihan armada.

Dengan berbagai tantangan tersebut, Garuda Indonesia masih berada dalam fase penyehatan kinerja, sembari terus mengoptimalkan dukungan pendanaan untuk memperkuat operasional dan meningkatkan efisiensi bisnis ke depan.

Tutup