Fenomena Lebaran Lebih Awal Kembali Terjadi di Maluku

Menurut keterangan warga, Sombalatu Purna, rangkaian perayaan telah dimulai sejak malam sebelumnya. Takbir berkumandang pada Senin malam (16/3/2026) sekitar pukul 23.00 WIT, menciptakan suasana religius yang terasa hingga ke seluruh penjuru desa.

Di tengah penantian umat Muslim di berbagai daerah terhadap penetapan resmi 1 Syawal 1447 Hijriah, warga Desa Buano Utara justru telah lebih dahulu merayakan Hari Raya Idulfitri. Perayaan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 17 Maret 2026.

Keputusan warga setempat untuk merayakan Lebaran lebih awal sontak menarik perhatian publik. Pasalnya, secara nasional, penetapan awal Syawal masih menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah.

Menurut keterangan warga, Sombalatu Purna, rangkaian perayaan telah dimulai sejak malam sebelumnya. Takbir berkumandang pada Senin malam (16/3/2026) sekitar pukul 23.00 WIT, menciptakan suasana religius yang terasa hingga ke seluruh penjuru desa.

Keesokan harinya, ratusan warga berkumpul di Masjid Sementara Al-Anmabua untuk melaksanakan salat Id berjamaah. Sekitar 350 jamaah hadir dalam ibadah yang dimulai pukul 06.20 WIT tersebut.

Pelaksanaan salat Id berlangsung dengan khusyuk dan penuh kekhidmatan. Warga dari berbagai dusun tampak antusias mengikuti rangkaian ibadah sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadan.

Suasana kebersamaan dan kegembiraan begitu terasa dalam perayaan yang digelar lebih awal ini. Masyarakat saling bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan di hari kemenangan.

Fenomena perbedaan waktu Lebaran seperti ini bukan hal baru di sejumlah wilayah Maluku. Penentuan awal bulan Hijriah di daerah tertentu masih mengacu pada metode rukyatul hilal secara lokal, yang dapat menghasilkan hasil berbeda dengan penetapan nasional.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Adapun pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia masih menunggu hasil sidang isbat untuk menetapkan tanggal resmi Idulfitri.

Tutup