Akses Ditutup, Warga Palestina Terhalang Ibadah di Masjid Al-Aqsa

Masjid Al-Aqsa

Situasi di Masjid Al-Aqsa kembali memanas setelah otoritas Israel dilaporkan berencana memperpanjang penutupan kompleks tersebut hingga perayaan Idul Fitri.

Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari pembatasan yang telah diberlakukan sejak awal bulan Ramadan, yang membatasi akses jemaah ke salah satu situs suci umat Islam tersebut.

Langkah tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah negara mayoritas Muslim. Sedikitnya delapan negara menyampaikan kecaman terbuka dan menilai kebijakan tersebut melanggar prinsip kebebasan beribadah.

Mereka juga menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas Masjid Al-Aqsa, serta mendesak agar pembatasan segera dihentikan.

Di lapangan, akses menuju kawasan masjid masih ditutup bagi sebagian besar warga Palestina. Akibatnya, aktivitas ibadah seperti salat Jumat dan tarawih tidak dapat dilaksanakan di dalam kompleks.

Pengamanan juga diperketat di kawasan Kota Tua Yerusalem, dengan kehadiran aparat bersenjata yang berjaga di berbagai titik strategis.

Sejak kebijakan penutupan diberlakukan, hanya sekitar 25 staf Wakaf Islam yang diizinkan masuk secara bergantian untuk menjalankan tugas terbatas di dalam area masjid.

Permintaan untuk menambah jumlah petugas disebut tidak mendapat persetujuan dari pihak berwenang, memicu kekhawatiran akan semakin terbatasnya pengelolaan kawasan suci tersebut.

Selain itu, muncul laporan mengenai dugaan pemasangan kamera pengawas di dalam ruang salat, yang dinilai dapat meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas jemaah secara intensif.

Dampak pembatasan ini juga dirasakan oleh warga di sekitar Kota Tua. Aktivitas ekonomi yang biasanya ramai kini menurun drastis akibat akses yang dibatasi ketat.

Berbanding terbalik, kehidupan di luar kawasan Kota Tua justru berlangsung relatif normal tanpa pembatasan signifikan.

Ketegangan mencapai puncaknya menjelang malam Lailatul Qadar, ketika ratusan aparat keamanan dikerahkan untuk menutup akses menuju masjid, memaksa banyak jemaah beribadah di luar area.

“Penutupan Kota Tua dengan cara seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Mustafa Abu Sway, profesor sekaligus anggota Dewan Wakaf Islam di Yerusalem.

Ia menilai situasi saat ini menunjukkan perbedaan mencolok antara kondisi di dalam kawasan yang dibatasi ketat dengan aktivitas di luar yang tetap berjalan normal, termasuk kegiatan keagamaan masyarakat.

Tutup