Pemerintah Amerika Serikat mengakui adanya kesalahan penargetan dalam serangan rudal yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Iran pada 28 Februari 2026. Insiden tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar merupakan anak-anak.
Berdasarkan hasil investigasi awal militer AS, serangan tersebut terjadi akibat kesalahan dalam menentukan target yang bersumber dari data intelijen lama.
Laporan sejumlah media di Amerika Serikat yang dirangkum oleh The Guardian menyebutkan bahwa perencana militer menggunakan koordinat target yang berasal dari data lama milik Defense Intelligence Agency.
Bangunan yang menjadi sasaran serangan sebelumnya memang pernah menjadi bagian dari kompleks militer Iran. Namun, citra satelit terbaru menunjukkan bahwa bangunan tersebut telah lama dipisahkan dari fasilitas militer dan berfungsi sebagai sekolah dengan lapangan bermain serta mural berwarna di dindingnya.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menolak memberikan komentar rinci terkait temuan awal penyelidikan tersebut.
“Kami tidak akan membiarkan laporan media mengarahkan atau memaksa kami untuk menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon.
Ia menambahkan bahwa penyelidikan lanjutan akan dipimpin oleh seorang perwira jenderal AS dari luar United States Central Command (CENTCOM), yang saat ini mengawasi operasi militer terhadap Iran.
Menurutnya, langkah tersebut lazim dilakukan militer AS untuk memastikan proses investigasi berjalan lebih independen.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyalahkan pihak-pihak yang disebutnya sebagai musuh negara atas serangan terhadap sekolah tersebut.






