Aktivis Minta RI Pertimbangkan Usir Dubes AS Jakarta
Seorang aktivis Islam, Ahmad Khozinudin, menyerukan agar pemerintah Indonesia mengevaluasi hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Seruan tersebut muncul setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan syarat pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut Khozinudin, salah satu syarat yang disampaikan IRGC agar kapal-kapal negara lain dapat kembali melintasi Selat Hormuz adalah dengan memutus hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat serta mengusir duta besarnya dari negara masing-masing.
“Indonesia perlu mempertimbangkan evaluasi hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, termasuk kemungkinan mengusir duta besarnya dari Jakarta,” ujar Khozinudin dalam pernyataannya, Rabu (11/3/2026).
Ia menilai isu tersebut penting dicermati mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi distribusi energi dunia. Jalur laut tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara.
“Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling sibuk di dunia, di mana sekitar 20 persen suplai minyak global melewati jalur ini,” kata Khozinudin.
Khozinudin juga menyoroti posisi Indonesia yang dalam beberapa dekade terakhir telah menjadi negara pengimpor minyak. Kondisi tersebut membuat stabilitas jalur distribusi energi internasional menjadi sangat penting bagi ketahanan energi nasional.
Ia menjelaskan, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 1 juta barel dipenuhi melalui impor dari berbagai negara.
Sebagian pasokan minyak impor Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah yang pengirimannya melewati Selat Hormuz. Oleh karena itu, setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi berdampak langsung pada distribusi energi ke Indonesia.
“Sebagian minyak impor Indonesia berasal dari kawasan Arab dan rutenya melewati Selat Hormuz, sehingga jika jalur itu terganggu tentu akan memengaruhi pasokan energi nasional,” ujarnya.
Khozinudin juga mengungkapkan adanya laporan mengenai kapal tanker milik PT Pertamina yang disebut-sebut tertahan di kawasan tersebut akibat ketegangan geopolitik yang terjadi.
“Informasi terakhir menyebutkan setidaknya ada dua kapal tanker Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz,” kata Khozinudin.



