Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada awal pekan ini. Dalam perdagangan Senin (9/3/2026) pagi, mata uang Indonesia tercatat melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS.
Data dari Bloomberg menunjukkan kurs dolar AS berada di level Rp17.009 atau menguat sekitar 0,50 persen terhadap rupiah. Angka ini menandakan pelemahan rupiah yang cukup signifikan dibandingkan posisi sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026), rupiah sebenarnya sudah menunjukkan tren pelemahan dengan berada di posisi Rp16.925 per dolar AS. Pergerakan tersebut membuat rupiah semakin dekat dengan ambang psikologis Rp17.000 yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Selain di pasar spot, pelemahan rupiah juga tercermin dalam kurs referensi yang dirilis oleh Bank Indonesia. Nilai tukar berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat turun Rp33 menjadi Rp16.919 per dolar AS.
Pengamat pasar menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian di tingkat global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memicu pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menurutnya, situasi yang memanas di kawasan Timur Tengah mendorong investor global mencari perlindungan pada dolar AS yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak dunia juga memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian domestik. Harga energi yang meningkat berpotensi memperlebar defisit perdagangan serta memicu kenaikan inflasi di dalam negeri.
Di sisi lain, kondisi cadangan devisa Indonesia yang menurun juga menjadi perhatian pelaku pasar. Situasi tersebut dinilai dapat mengurangi ruang bagi otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Memasuki awal pekan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global, khususnya data ekonomi dari Amerika Serikat.
Lukman menilai rilis data ketenagakerjaan AS berpotensi menunjukkan kondisi ekonomi yang masih kuat. Jika hal itu terjadi, penguatan dolar AS kemungkinan akan terus berlanjut.
Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan tetap aktif menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai langkah intervensi di pasar valuta asing.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS seiring masih tingginya volatilitas pasar global.





