Diduga Terkecoh Ilusi Optik Iran, Serangan Israel Hancurkan “Helikopter Palsu”

Pada Rabu (4/3/2026), IDF mempublikasikan video serangan presisi yang disebut menargetkan helikopter Mi-17 milik Iran. Dalam rekaman tersebut terlihat sebuah objek menyerupai helikopter yang kemudian dihantam rudal dari udara.

Sebuah insiden yang memicu sorotan di kalangan analis militer terjadi setelah militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) merilis rekaman serangan udara yang diklaim menghancurkan aset militer Iran. Alih-alih menunjukkan keberhasilan operasi, rekaman tersebut justru diduga memperlihatkan kesalahan identifikasi target.

Pada Rabu (4/3/2026), IDF mempublikasikan video serangan presisi yang disebut menargetkan helikopter Mi-17 milik Iran. Dalam rekaman tersebut terlihat sebuah objek menyerupai helikopter yang kemudian dihantam rudal dari udara.

Namun tak lama setelah video itu beredar, sejumlah analis pertahanan menemukan kejanggalan pada objek yang menjadi sasaran serangan.

Analis pertahanan independen Patricia Marins melalui akun media sosial X (sebelumnya Twitter) menyebut bahwa objek yang dihantam kemungkinan bukan helikopter sungguhan. Berdasarkan analisis visual serta bantuan perangkat kecerdasan buatan, objek tersebut diduga hanyalah lukisan anamorphic tiga dimensi di permukaan aspal.

“Perhatikan video tersebut. Helikopter yang diklaim terkena serangan tidak menunjukkan pergerakan sama sekali, baling-balingnya tidak berputar, dan bayangannya terlihat statis serta tidak natural sebelum serangan terjadi,” tulis Marins dalam unggahannya.

Teknik lukisan anamorphic merupakan metode visual yang dirancang agar gambar di permukaan datar terlihat seperti objek tiga dimensi jika dilihat dari sudut tertentu, terutama dari ketinggian. Dari perspektif sensor drone atau satelit, gambar tersebut dapat tampak menyerupai objek nyata.

Strategi penggunaan target umpan atau decoy sebenarnya bukan hal baru dalam dunia militer. Metode ini kerap digunakan untuk menipu sistem pengintaian musuh dan memaksa mereka menghabiskan amunisi mahal pada target palsu.

Contoh serupa pernah terjadi pada konflik Rusia dan Ukraina pada 2023, ketika Rusia dilaporkan menggunakan berbagai replika peralatan militer untuk mengelabui sistem pengintaian satelit Amerika Serikat.

Jika benar terjadi kesalahan identifikasi dalam serangan tersebut, dampak finansialnya dinilai cukup besar. Satu rudal presisi yang digunakan dalam operasi udara diperkirakan bernilai sekitar 4 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp60 miliar.

Para analis menilai, taktik semacam ini dapat menjadi bagian dari strategi perang jangka panjang atau attrition warfare. Melalui metode tersebut, pihak lawan berupaya menguras persediaan amunisi serta anggaran militer musuh tanpa harus mempertaruhkan personel maupun peralatan tempur mereka.

Hingga laporan ini disusun, pihak militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait analisis yang menyebut target serangan tersebut kemungkinan hanya berupa gambar tiga dimensi di permukaan jalan.

Tutup