Momen Imlek, Harga Bitcoin Rawan Tekanan Jangka Pendek

Ilustrasi Bitcoin

Periode Tahun Baru Imlek 2026 yang berlangsung pada 17 Februari hingga awal Maret kembali menjadi perhatian pelaku pasar kripto global. Secara historis, momen ini kerap diikuti pola musiman pada pergerakan harga Bitcoin, mulai dari tekanan jual menjelang libur hingga pemulihan setelah aktivitas perdagangan kembali normal.

Sejumlah riset pasar menunjukkan bahwa dalam kurun 2015–2023, Bitcoin cenderung mengalami koreksi rata-rata 10–20 persen dalam dua hingga tiga minggu sebelum Imlek. Setelah periode libur berakhir, harga sering kali mencatat reli 15–35 persen dalam satu hingga dua minggu berikutnya.

Analisis 10x Research bahkan mencatat strategi membeli Bitcoin tiga hari sebelum Imlek dan menjual 10 hari setelahnya secara historis menghasilkan rata-rata imbal hasil (ROI) sekitar 11 persen. Pola ini memperkuat anggapan bahwa Imlek memiliki efek musiman terhadap volatilitas pasar kripto.

Fenomena tersebut tak lepas dari besarnya partisipasi investor asal China dalam ekosistem kripto global. Meski terdapat pembatasan dari pemerintah setempat, jumlah pemilik aset kripto di China diperkirakan mencapai puluhan juta orang. Menjelang Imlek, sebagian investor disebut melakukan likuidasi untuk memenuhi kebutuhan musiman seperti perjalanan, pembagian angpao, hingga kebutuhan keluarga dan bisnis.

Tekanan jual yang terjadi dalam waktu relatif singkat menciptakan pola koreksi yang cukup konsisten. Selain itu, selama masa libur yang dapat berlangsung hingga delapan hari, volume perdagangan dari kawasan Asia cenderung menurun, sehingga likuiditas pasar menipis dan pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap transaksi besar.

Data historis 2024 menunjukkan pola serupa. Pada Januari 2024, Bitcoin sempat menyentuh level US$48.494 sebelum terkoreksi ke sekitar US$38.678 menjelang Imlek. Namun setelah periode libur, harga kembali menguat dan sempat mencapai US$56.650 pada akhir Februari.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai faktor musiman seperti Imlek memang kerap memberikan tekanan jangka pendek, tetapi bukan satu-satunya variabel penentu arah harga.

“Periode seperti Imlek sering kali menghadirkan volatilitas karena faktor likuiditas regional dan kebutuhan musiman investor. Namun, investor perlu melihatnya dalam konteks yang lebih luas, termasuk sentimen global dan arus dana institusional,” ujar Calvin.

Menurutnya, struktur pasar kripto saat ini jauh lebih matang dibandingkan beberapa tahun lalu. Masuknya investor institusi melalui berbagai instrumen investasi, termasuk ETF Bitcoin spot di sejumlah negara, membuat sumber likuiditas lebih terdiversifikasi dan tidak lagi terpusat di satu kawasan.

Meski demikian, Calvin mengingatkan agar investor tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek selama periode libur panjang. Ia menekankan pentingnya manajemen risiko serta disiplin dalam menghadapi dinamika pasar yang dipengaruhi kombinasi faktor musiman dan sentimen makroekonomi global.

Tutup