Singapura Pertimbangkan Atur Penjualan Blind Box
Pemerintah Singapura tengah mempertimbangkan pengaturan terhadap penjualan blind box, produk berisi barang acak yang populer di kalangan kolektor pop kultur. Kebijakan ini dikaji menyusul kekhawatiran bahwa mekanisme pembelian tanpa mengetahui isi produk berpotensi mendorong perilaku konsumtif yang menyerupai perjudian.
Menteri Hukum dan Dalam Negeri Singapura, K Shanmugam, menilai sistem “beli tanpa tahu isi” dapat memicu pembelian berulang, terutama ketika konsumen mengejar item langka atau edisi terbatas.
Dalam laporan media lokal Channel NewsAsia, pemerintah disebut tengah mengkaji regulasi yang lebih jelas, termasuk kemungkinan mewajibkan transparansi peluang (odds disclosure) atas setiap item yang tersedia dalam kemasan blind box. Selain itu, pembatasan tertentu juga dipertimbangkan guna memberikan perlindungan tambahan bagi konsumen, khususnya anak muda.
Wacana tersebut muncul di tengah meningkatnya popularitas model blind box dan sistem gacha dalam industri mainan, permainan digital, serta merchandise fandom. Skema randomized rewards itu kini menjadi bagian dari ekosistem pop kultur global yang berkembang pesat.
Shanmugam menegaskan bahwa pendekatan pemerintah bukan untuk melarang sepenuhnya penjualan blind box. Namun, ia menekankan pentingnya memastikan praktik bisnis tersebut tidak mengeksploitasi aspek psikologis konsumen yang terdorong oleh sensasi “keberuntungan” atau peluang mendapatkan barang langka.
Pemerintah juga ingin menutup celah regulasi apabila mekanisme pembelian acak tersebut berpotensi dikategorikan sebagai aktivitas yang menyerupai perjudian, terutama dalam situasi pembelian berulang tanpa kepastian hasil.
Jika regulasi resmi diberlakukan, pelaku industri blind box di Singapura diperkirakan harus melakukan penyesuaian, mulai dari transparansi sistem peluang hingga penerapan standar perlindungan konsumen yang lebih ketat.
Langkah ini menandai sikap lebih tegas Singapura terhadap praktik ekonomi hiburan berbasis randomized rewards yang selama ini berkembang seiring tren koleksi figur, kartu edisi terbatas, hingga kolaborasi merek pop kultur internasional.




