Ikon Pesut Muara Muntai Dibangun Tanpa Anggaran Khusus

Di tengah spekulasi bahwa proyek tersebut menyedot anggaran besar, Husain menegaskan bahwa pembangunan ikon kebanggaan warga Muara Muntai itu justru tidak menggunakan dana khusus dari anggaran desa.

Kepala Desa Muara Muntai Ulu, Husain Ahmad, akhirnya memberikan klarifikasi terkait besaran anggaran pembangunan ikon Pesut yang belakangan menjadi perbincangan masyarakat.

Di tengah spekulasi bahwa proyek tersebut menyedot anggaran besar, Husain menegaskan bahwa pembangunan ikon kebanggaan warga Muara Muntai itu justru tidak menggunakan dana khusus dari anggaran desa.

“Untuk pembuatan ikon pesut ini tidak memakai anggaran dana khusus, melainkan memanfaatkan bahan-bahan bekas dari sisa pembangunan pelantaran Masjid Besar Asysyakirin,” ujar Husain Ahmad.

Ia menjelaskan, sejumlah material seperti semen, pasir, kawat, hingga cat deko merupakan sisa bahan pembangunan yang kemudian dimanfaatkan kembali. Optimalisasi material tersebut dilakukan untuk menekan biaya sekaligus menghindari pemborosan.

Menurut Husain, hanya satu komponen yang benar-benar dibeli dalam proses pembangunan tersebut, yakni mesin pompa air (sanyo) guna menunjang fasilitas di sekitar ikon.

“Hanya pompa air yang kita beli, harganya sekitar 350 ribu rupiah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Husain menyebut bahwa pembangunan ikon Pesut ini merupakan buah karya seorang seniman bernama Joko Saptono. Karya tersebut dipersembahkan secara sukarela sebagai kenang-kenangan untuk masyarakat Muara Muntai.

Ia berharap penjelasan ini dapat meluruskan berbagai informasi yang beredar di tengah masyarakat mengenai asal-usul pendanaan ikon tersebut.

Menurutnya, pembangunan ikon Pesut menjadi bukti bahwa kreativitas dan semangat gotong royong masyarakat mampu melahirkan karya ikonik tanpa harus membebani anggaran desa.

Tutup