Industri Logistik Masuki Peak Season Ramadan–Idul Fitri 2026
Industri logistik nasional bersiap menghadapi periode peak season menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026. Lonjakan aktivitas pengiriman diperkirakan meningkat sekitar 10–30 persen, seiring melonjaknya transaksi e-commerce dan konsumsi masyarakat, terutama pada sektor makanan, fesyen, serta kebutuhan rumah tangga.
Peningkatan volume tersebut tidak hanya berdampak pada operasional distribusi barang, tetapi juga menempatkan layanan pelanggan (customer service) sebagai titik krusial. Seiring naiknya jumlah pengiriman, pertanyaan terkait status paket, pelacakan, hingga keluhan pelanggan diprediksi ikut meningkat tajam.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan logistik untuk menjaga kualitas layanan sekaligus mempertahankan tingkat kepuasan pelanggan di tengah tekanan operasional selama Ramadan.
Lonjakan Panggilan Pelanggan Tak Terhindarkan
Salah satu tantangan utama yang dihadapi perusahaan logistik selama peak season adalah melonjaknya volume panggilan masuk. Peningkatan pengiriman otomatis mendorong pelanggan lebih aktif menghubungi layanan pelanggan, terutama untuk memastikan paket tiba tepat waktu.
Tanpa sistem panggilan yang terintegrasi, antrean panjang dan panggilan tak terjawab berpotensi terjadi. Situasi ini dapat berdampak langsung pada persepsi pelanggan terhadap kualitas layanan perusahaan.
Nomor Layanan Terpisah Picu Kebingungan
Masalah lain yang kerap muncul adalah penggunaan nomor telepon berbeda antara kantor pusat dan cabang. Kondisi ini sering membuat pelanggan salah menghubungi unit yang tidak relevan, sehingga agent harus memindahkan panggilan secara manual.
Di jam-jam rawan seperti menjelang berbuka puasa atau waktu sahur, proses ini menjadi semakin membebani tim layanan pelanggan dan berpotensi menurunkan produktivitas serta kecepatan respons.
Tantangan SDM di Tengah Ibadah Puasa
Faktor manusia juga menjadi perhatian penting. Selama Ramadan, agent customer service yang menjalani ibadah puasa berpotensi mengalami penurunan energi, terutama pada siang hari. Di sisi lain, beban kerja justru meningkat seiring melonjaknya permintaan layanan.
Tanpa pengaturan shift yang tepat dan sistem distribusi panggilan yang efisien, risiko kelelahan agent sulit dihindari. Dampaknya, tingkat kesalahan penanganan dapat meningkat dan waktu respons terhadap pelanggan menjadi lebih lambat.
Kesenjangan Data Tracking dan Komunikasi
Kendala lain yang sering muncul adalah ketidaksinkronan antara data pelacakan dan komunikasi ke pelanggan. Meski sistem tracking pengiriman telah tersedia, banyak pelanggan tetap menghubungi customer service untuk meminta kepastian.
Masalahnya, data operasional tersebut kerap belum terintegrasi secara optimal dengan sistem komunikasi. Akibatnya, agent harus membuka banyak dashboard, meminta klarifikasi tambahan, atau menjelaskan ulang informasi yang sebenarnya sudah tersedia.
Situasi ini membuat durasi panggilan menjadi lebih panjang dan pelanggan tetap merasa kurang mendapatkan kepastian, terutama saat terjadi keterlambatan pengiriman atau gangguan distribusi seperti cold chain.




