Pengguna AS Ramai-Ramai Hapus TikTok Usai Beralih ke Perusahaan Baru

TikTok Ilustrasi

Tekanan terhadap TikTok di Amerika Serikat belum mereda meski operasional aplikasi berbagi video tersebut resmi beralih ke perusahaan berbasis AS. Alih-alih meredakan kekhawatiran publik, perubahan struktur kepemilikan justru memicu gelombang penghapusan aplikasi oleh pengguna.

Data terbaru menunjukkan lonjakan signifikan jumlah pengguna TikTok di Amerika Serikat yang menghapus aplikasi dalam beberapa hari terakhir. Laporan Sensor Tower mencatat angka penghapusan meningkat hingga 150 persen dibandingkan rata-rata tiga bulan sebelumnya, tak lama setelah TikTok mengumumkan akan beroperasi di bawah perusahaan gabungan baru yang berbasis di AS.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat menekan ByteDance—induk TikTok asal China—untuk menjual operasional TikTok di AS atau menghadapi ancaman penutupan permanen. Setelah melalui serangkaian negosiasi panjang antara pihak AS dan China, TikTok akhirnya disepakati beroperasi di Amerika Serikat melalui entitas perusahaan baru yang dikendalikan oleh mitra AS.

TikTok kemudian mengumumkan pembentukan perusahaan gabungan yang berfokus pada pengamanan operasional dan data pengguna di AS. Dalam struktur baru tersebut, Adam Presser, mantan Chief Operating Officer TikTok, ditunjuk sebagai Chief Executive Officer (CEO).

Namun, pembentukan entitas baru ini tidak sepenuhnya meredakan keraguan publik. Sejumlah pengguna di Amerika Serikat mengaku tidak yakin terhadap transparansi dan independensi perusahaan baru tersebut. Keraguan itu semakin menguat setelah TikTok meminta pengguna menyetujui pembaruan kebijakan privasi beberapa hari lalu.

Dalam kebijakan terbaru tersebut, TikTok mencantumkan sejumlah jenis data yang berpotensi dikumpulkan, termasuk data pribadi sensitif seperti ras, etnis, dan orientasi seksual. Selain itu, aplikasi ini juga menyebut kemungkinan pengumpulan data terkait kewarganegaraan, status imigrasi, serta informasi keuangan pengguna.

Meski menuai kontroversi luas di media sosial, TikTok menegaskan bahwa frasa dan poin-poin dalam kebijakan privasi terbaru sebenarnya bukan hal baru. Arsip kebijakan privasi versi Agustus 2024 menunjukkan ketentuan serupa telah tercantum sebelumnya.

Kendati demikian, momentum pengumuman restrukturisasi perusahaan dan perubahan kebijakan privasi secara bersamaan memicu persepsi negatif di kalangan masyarakat. Banyak pengguna menilai langkah tersebut memperkuat kekhawatiran lama soal perlindungan data dan privasi, yang selama ini menjadi sorotan utama terhadap TikTok di Amerika Serikat.

Tutup