Bukan Soal Jabatan, Ini Wajah Kepemimpinan Pemuda di Akar Rumput

Muhlisin AP.

Kepemimpinan tidak selalu hadir dalam bentuk jabatan, seragam, atau kewenangan formal. Dalam kehidupan sosial, kepemimpinan justru sering lahir dari keberanian untuk terlibat, dari kesediaan mengambil peran ketika persoalan muncul di tengah masyarakat. Pada titik inilah, kepemimpinan menjadi soal kesadaran, bukan posisi.

Di lingkungan masyarakat lokal, ukuran kepemimpinan tidak ditentukan oleh seberapa besar kuasa yang dimiliki seseorang, melainkan oleh seberapa jauh ia bersedia hadir dan bertanggung jawab. Banyak persoalan warga yang tidak menunggu solusi struktural, tetapi membutuhkan kehadiran figur yang mau mendengar, memahami, dan menyuarakan kepentingan bersama secara jujur.

Pemuda memiliki modal penting untuk menjalankan peran tersebut. Kemampuan berpikir kritis, akses terhadap pengetahuan, serta idealisme yang masih kuat menempatkan pemuda sebagai kelompok yang potensial menjadi penggerak sosial.

Namun potensi itu hanya bermakna ketika disertai kepekaan etis dan kemauan untuk turun langsung ke realitas, bukan sekadar berhenti pada wacana.

Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi warga sering kali bersifat mendasar: rasa keadilan, keterbukaan informasi, dan kehadiran pihak yang mau berdialog.

Kepemimpinan dalam konteks ini bukan tentang mengatur, melainkan tentang membangun rasa percaya. Pemuda yang mampu menjadi pendengar yang baik dan menyampaikan aspirasi warga secara bertanggung jawab sedang menjalankan fungsi kepemimpinan sosial, meski tanpa jabatan apa pun.

Sikap kritis menjadi elemen penting dalam peran tersebut. Namun kritik yang konstruktif bukanlah reaksi emosional atau alat kepentingan, melainkan hasil dari pemahaman, data, dan orientasi pada perbaikan.

“Saya meyakini bahwa kepemimpinan hari ini tidak ditentukan oleh ambisi kekuasaan, tetapi oleh kesadaran untuk terlibat dan bertanggung jawab. Ketika pemuda memilih berpikir jernih, bersikap jujur, dan bertindak dengan integritas, pada saat itulah kepemimpinan dijalankan, meski tanpa jabatan formal. Perubahan selalu bisa dimulai dari ruang sosial yang paling dekat,” ujar Muhlisin, pria yang juga lulusan S1 Universitas Pelita Bangsa (UPB) Cikarang.

Integritas pemuda diuji ketika ia mampu bersikap tegas tanpa kehilangan etika, serta menyuarakan kebenaran tanpa memperkeruh suasana sosial.

Di sisi lain, kepemimpinan sosial menuntut keseimbangan antara keberanian mengkritik dan kemampuan berkolaborasi.

Masyarakat tidak membutuhkan figur yang merasa paling benar, tetapi membutuhkan jembatan yang mampu menghubungkan aspirasi warga dengan ruang-ruang dialog yang tersedia. Dari proses itulah perubahan yang berkelanjutan dapat tumbuh.

Peran pemuda juga tidak terlepas dari tanggung jawab menjaga kohesi sosial. Nilai gotong royong, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap lingkungan sosial harus terus dirawat.

“Keteladanan menjadi kunci. Pemuda yang hadir sebagai penggerak persatuan—bukan provokator perpecahan—sedang menanamkan fondasi sosial yang kuat bagi masyarakatnya,” pungkas dia.

Tutup