BRICS berupaya menawarkan model kerja sama Internasional

BRICS

Menjelang keketuaan India pada BRICS tahun 2026, diskursus global mengenai masa depan multilateralisme dan tatanan dunia multipolar kian menguat. Momentum ini menempatkan India pada posisi strategis untuk menjembatani kepentingan negara-negara berkembang dan maju, sekaligus memperkuat kerja sama internasional berbasis dialog, konsensus, dan inklusivitas.

Perubahan lanskap geopolitik global menuntut pendekatan baru dalam tata kelola dunia. Polarisasi, fragmentasi ekonomi, serta krisis keamanan lintas kawasan menegaskan perlunya forum multilateral yang lebih representatif dan adaptif terhadap realitas abad ke-21.

India, BRICS, dan G7: Membangun Jembatan Global

Dinamika ini tercermin dalam pernyataan Menteri Eropa dan Urusan Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, usai pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri India, Dr. S. Jaishankar. Ia menyoroti fakta bahwa Prancis akan memimpin G7, sementara India akan menjabat sebagai Ketua BRICS pada 2026.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa BRICS dan G7 tidak seharusnya diposisikan saling berhadapan, melainkan perlu membangun jembatan kerja sama. Pernyataan tersebut mencerminkan pengakuan internasional atas meningkatnya bobot BRICS dalam tatanan global, sekaligus kebutuhan mendesak akan pendekatan kolaboratif di tengah dunia yang semakin multipolar.

BRICS sebagai Representasi Global South

BRICS telah berevolusi dari empat negara pendiri menjadi sepuluh anggota, yang secara kolektif mewakili hampir separuh populasi dunia dan sekitar 40 persen Produk Domestik Bruto global. Keanggotaan ini mencakup negara-negara dengan kapasitas strategis di sektor energi, manufaktur, sumber daya manusia, mineral kritis, hingga teknologi.

India, sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia dan salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat, memainkan peran sentral dalam konsolidasi BRICS. Berlandaskan filosofi kebijakan luar negeri Vasudhaiva Kutumbakam—bahwa dunia adalah satu keluarga—India memandang BRICS bukan sebagai blok anti-Barat, melainkan sebagai platform alternatif non-Barat yang inklusif dan representatif bagi aspirasi Global South.

Keketuaan India pada BRICS 2026

Sebagai Ketua BRICS 2026, India akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS serta berbagai pertemuan sektoral. Agenda yang dibahas mencakup perdagangan, konektivitas, mata uang, kontra-terorisme, budaya, teknologi, fintech, pendidikan, riset dan pengembangan, pengobatan tradisional, hingga pertukaran pemuda dan olahraga.

Salah satu prioritas utama keketuaan India adalah mendorong reformasi institusi global, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Keamanan PBB, agar lebih relevan, demokratis, dan mencerminkan keseimbangan geopolitik kontemporer.

Multipolaritas dan Tantangan Global

BRICS berupaya menawarkan model kerja sama internasional yang tidak bertumpu pada dominasi atau diktasi, melainkan pada konsensus dan kepentingan bersama. Melalui instrumen seperti New Development Bank serta penguatan kerja sama Selatan–Selatan, BRICS berkontribusi pada diversifikasi sistem ekonomi dan keuangan global.

Dalam konteks keamanan internasional, multipolaritas mendorong pendekatan yang lebih terdesentralisasi dan berbasis kawasan. India memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas di Samudra Hindia dan Asia Selatan, sekaligus memperkuat dialog lintas kawasan di tengah meningkatnya ketegangan global.

India sebagai Pembangun Konsensus Global

Pada tahun yang sama, India juga dijadwalkan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi QUAD. Posisi unik ini memberikan peluang bagi India untuk menjembatani berbagai forum strategis global, meluruskan mispersepsi, serta memperkuat pemahaman lintas blok di tengah tantangan bersama yang menuntut solidaritas internasional.

India menegaskan bahwa BRICS tidak bertujuan menggantikan tatanan dunia yang ada, melainkan membentuk ulang pola kolaborasi global agar lebih adil, berkelanjutan, dan inklusif. Sejalan dengan visi Perdana Menteri Narendra Modi, BRICS dimaknai sebagai Building Resilience and Innovation for Cooperation and Sustainability.

Penulis:
Anil Trigunayat
Mantan Duta Besar India untuk Yordania, Libya, dan Malta. Saat ini menjabat sebagai Distinguished Fellow di Vivekananda International Foundation dan United Services Institute of India.

Tutup