Pengakuan Wanita di AS Gunakan Sperma sebagai Skincare Picu Perdebatan
Penggunaan bahan alami untuk perawatan kulit kerap dipilih sebagian perempuan karena dianggap lebih aman dan minim risiko. Namun, sebuah kisah yang mencuat dari Amerika Serikat justru memantik perdebatan publik karena dinilai melampaui praktik perawatan wajah pada umumnya.
Seorang wanita bernama Brandy menjadi sorotan setelah mengaku rutin menggunakan air mani suaminya sebagai produk perawatan kulit wajah. Pengakuan tersebut disampaikannya secara terbuka dalam salah satu episode reality show My Strange Addiction yang ditayangkan stasiun televisi TLC.
Dalam acara tersebut, Brandy menceritakan bahwa air mani suaminya dibekukan terlebih dahulu dalam cetakan es, kemudian diaplikasikan ke wajahnya secara rutin dua kali sehari, pada pagi dan malam hari. Ia menyebut metode tersebut sebagai bagian dari rutinitas perawatan harian yang telah dijalaninya cukup lama.
“Di pagi hari, saya menggunakan yang baru, langsung dari suami saya,” ujar Brandy, sebagaimana dikutip dari Unilad.
Menurut pengakuannya, kebiasaan tersebut membuat kulit wajah terasa lebih lembap dan tampak bercahaya. Ia bahkan menyebut cairan tersebut sebagai versi “produk kecantikan alami” miliknya sendiri.
Meski demikian, klaim tersebut tidak disertai dengan dasar medis yang jelas. Hingga kini, belum ada penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa air mani aman atau efektif digunakan sebagai produk perawatan kulit.
Kisah Brandy pun menuai beragam reaksi di media sosial. Sejumlah warganet menyatakan rasa tidak percaya dan jijik terhadap praktik tersebut, sementara lainnya menilai kebiasaan itu sebagai bentuk obsesi berlebihan.
“Ini bukan lagi soal skincare, tapi sudah mengarah ke perilaku yang tidak wajar,” tulis seorang pengguna media sosial.
Komentar bernada satire juga bermunculan. Sebagian netizen menyoroti kemungkinan cairan tersebut disimpan di dalam freezer bersama makanan, yang dinilai berpotensi menimbulkan masalah kebersihan.
Terlepas dari pro dan kontra, kisah Brandy kembali viral dan menjadi bahan perbincangan publik. Fenomena ini sekaligus memunculkan diskusi lebih luas mengenai batas kewajaran, keamanan, serta pentingnya pendekatan ilmiah dalam praktik perawatan kulit.




