Harga Sapi Naik, Pedagang Daging di DKI Jakarta Ancam Hentikan Penjualan
Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta menyatakan akan menghentikan sementara aktivitas penjualan daging sebagai bentuk protes atas kondisi perdagangan yang dinilai semakin memberatkan pedagang. Langkah tersebut diambil karena berbagai upaya penyampaian aspirasi dinilai belum menghasilkan solusi nyata.
Ketua APDI DKI Jakarta Wahyu Purnama menjelaskan, kebijakan penghentian sementara penjualan merupakan hasil kesepakatan para pedagang setelah melihat situasi pasar yang kian tidak berpihak. Menurutnya, tekanan biaya terus meningkat, sementara posisi pedagang justru semakin terdesak.
Dalam surat terbuka yang diterima Lambeturah pada Rabu (21/1/2026), Wahyu menyebutkan bahwa pedagang daging, termasuk bandar sapi potong hingga pelaku usaha di hilir, merasa perlu menyuarakan keprihatinan atas kondisi perdagangan daging saat ini.
Ia mengungkapkan, sebelumnya telah dilakukan rapat yang menghasilkan komitmen adanya jaminan kestabilan harga sapi timbang hidup selama dua pekan. Namun, kesepakatan tersebut dinilai tidak terealisasi di lapangan.
Kondisi semakin sulit karena harga sapi dari feedloter mengalami kenaikan signifikan. Dampaknya, harga karkas di rumah potong hewan (RPH) turut terdorong naik, sementara pada saat yang sama daya beli masyarakat justru menunjukkan pelemahan.
“Ketika harga sapi dari feedloter terlalu tinggi dan harga karkas di RPH ikut naik, pedagang berada di posisi yang sangat terhimpit karena konsumen juga menahan belanja,” ujar Wahyu.
APDI berharap, kebijakan penghentian sementara penjualan ini dapat menjadi perhatian serius bagi para pemangku kepentingan untuk segera mencari solusi demi menjaga keberlangsungan usaha pedagang daging sekaligus stabilitas harga di pasaran.




