Banjir Langganan Meluas, Pemerintah Kabupaten Bekasi Petakan Wilayah Rawan Banjir
Intensitas hujan tinggi yang terjadi secara beruntun dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir di berbagai wilayah Kabupaten Bekasi. Genangan air dilaporkan mengganggu aktivitas warga, termasuk akses jalan dan konektivitas antarwilayah.
Pemerintah Kabupaten Bekasi mencatat banjir terjadi di sedikitnya 16 kecamatan dengan lebih dari 50 titik terdampak. Wilayah-wilayah tersebut mayoritas merupakan kawasan yang selama ini dikenal rawan banjir musiman.
Pelaksana Tugas Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Ia menyebutkan, hasil peninjauan lapangan menunjukkan perlunya penanganan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun.
“Sebagian besar titik yang terdampak adalah wilayah yang hampir setiap tahun mengalami banjir. Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya bersifat sementara,” ujar Asep usai memimpin Apel Hari Desa di lingkungan Pemkab Bekasi, Senin (19/1/2026) kemarin.
Untuk mencari solusi, Pemkab Bekasi mulai menginventarisasi kebutuhan teknis bersama para camat. Sejumlah opsi, termasuk rekayasa aliran air dan perbaikan sistem drainase, tengah dibahas sebagai bagian dari rencana penanggulangan jangka menengah.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi memfokuskan perhatian pada kawasan bantaran Sungai Citarum. Langkah ini menyusul jebolnya tanggul di Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, yang terjadi pada Senin malam.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menjelaskan bahwa timnya langsung diterjunkan ke lokasi begitu menerima laporan. Langkah awal dilakukan untuk menilai dampak serta mencegah meluasnya genangan.
“Tim kami langsung ke lapangan untuk asesmen dan penanganan awal agar dampaknya tidak semakin besar,” kata Dodi, Selasa (20/1/2026).
Penanganan darurat dilakukan dengan menyalurkan sejumlah material pendukung, seperti bambu, bronjong, karung pasir, dan terpal. Material tersebut digunakan untuk memperkuat bagian tanggul yang rusak sekaligus mengendalikan aliran air sementara.
Selain itu, BPBD juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum sebagai pihak yang berwenang menangani infrastruktur sungai. Berdasarkan koordinasi tersebut, tim teknis BBWS telah dikerahkan untuk melakukan penanganan lanjutan secara struktural.





