Lubang Raksasa Akibat Longsor di Aceh Tengah Terus Meluas
Fenomena lubang raksasa bekas longsor di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, terus meluas dan menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan warga serta pengguna jalan. Pergerakan tanah di lokasi tersebut dilaporkan masih sangat aktif dan berpotensi menyebabkan dampak yang lebih besar jika tidak segera ditangani secara komprehensif.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah mengungkapkan, longsoran yang berada di Kecamatan Ketol itu telah terjadi sejak awal tahun 2000-an dan terus mengalami perkembangan hingga kini.
“Awalnya hanya berupa lubang kecil sejak awal 2000-an. Namun sejak 2004, pergerakan tanah terjadi secara bertahap dan terus membesar sampai sekarang,” ujar Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, Kamis (15/1/2026).
Kondisi tersebut kembali menjadi sorotan publik setelah video rekaman udara menggunakan drone beredar luas di media sosial. Video itu memperlihatkan lubang besar akibat gerusan tanah yang kian mendekati badan jalan kabupaten, sehingga memicu kekhawatiran akan potensi kecelakaan lalu lintas.
Dampak longsoran ini sejatinya telah lama dirasakan masyarakat. Pada 2006, longsor tersebut sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik, jalur vital penghubung Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah.
Ancaman yang terus berulang juga memaksa pemerintah melakukan relokasi warga. Pada 2013 hingga 2014, penduduk Kampung Bah Serempah direlokasi ke Kampung Serempah Baru melalui tiga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Hingga kini, belum ada kajian ilmiah yang memastikan awal mula terbentuknya longsoran berbentuk lubang tersebut. Namun, hasil kajian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menunjukkan pergerakan tanah di kawasan itu meningkat setiap tahun.
Sejak 2011, ESDM Aceh secara rutin melakukan pengukuran luasan longsoran. Data terbaru tahun 2025 mencatat area terdampak telah melampaui 27.000 meter persegi dan terus mendekati jalan lintas, sehingga meningkatkan risiko bagi pengguna jalan.
Kajian geologi dan survei geofisika yang dilakukan ESDM Aceh bersama BPBD Aceh Tengah pada 2022 menyimpulkan bahwa longsoran terjadi pada lapisan tanah permukaan yang jenuh air. Struktur tanah didominasi material vulkanik yang mudah menghantarkan air dan rentan bergerak.
“Pergerakan tanah di lokasi ini sangat aktif dan berkelanjutan. Kawasan tersebut masuk dalam zona rawan tinggi pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan nonstruktural secara segera dan berkelanjutan,” tegas Andalika.
Ia menegaskan, fenomena ini bukanlah sinkhole yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan longsor lambat (slow moving landslide) yang berkembang secara perlahan dari waktu ke waktu.
Sejumlah faktor dinilai memperparah kondisi tersebut, mulai dari karakter tanah vulkanik yang belum padat, curah hujan tinggi di wilayah pegunungan, hingga kemiringan lereng yang curam dengan sudut mendekati 90 derajat.
Selain itu, beban lalu lintas di ruas jalan Blang Mancung–Simpang Balik, keberadaan jaringan listrik tegangan tinggi (SUTET), serta aktivitas perkebunan warga di sekitar lokasi turut meningkatkan ketidakstabilan tanah. Faktor gempa bumi, baik akibat aktivitas tektonik maupun vulkanik Gunung Burni Telong, juga disebut berpotensi memengaruhi pergerakan tanah, meski belum ada kajian lanjutan yang memastikan keterkaitannya.
Saat ini, BPBD Aceh Tengah terus melakukan pemantauan intensif. Rambu peringatan, garis pembatas, dan pengaman telah dipasang guna meminimalkan risiko kecelakaan.
“Permukiman warga berjarak sekitar satu kilometer dari titik longsoran. Untuk sementara belum ada rencana relokasi tambahan, kami masih menunggu hasil kajian terbaru,” jelas Andalika.
BPBD Aceh Tengah juga berkoordinasi dengan Dinas PUPR, Dinas ESDM, serta instansi terkait untuk membahas langkah penanganan lanjutan, termasuk opsi relokasi trase jalan dan penataan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan rawan longsor.





