Laporan HAM: Korban Jiwa Demonstrasi Iran Tembus 2.003 Orang
Iran menghadapi gelombang demonstrasi paling brutal dan berdarah dalam beberapa dekade terakhir. Di tengah situasi keamanan yang mulai berangsur terkendali, komunitas hak asasi manusia mengungkap skala tragedi yang terjadi selama rangkaian unjuk rasa nasional tersebut.
Lembaga Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan bahwa hingga 13 Januari 2026, jumlah korban jiwa akibat demonstrasi dan kerusuhan di berbagai wilayah Iran mencapai sedikitnya 2.003 orang.
Laporan tersebut muncul setelah masyarakat Iran mulai dapat kembali berkomunikasi dengan dunia luar, menyusul beberapa hari ketenangan relatif usai pembatasan akses informasi dan gangguan jaringan komunikasi.
Kelompok pemantau HAM menilai angka korban tersebut tergolong sangat tinggi dan belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, jumlah korban jiwa akibat gelombang demonstrasi kali ini disebut mendekati jumlah korban dalam Revolusi Islam Iran pada 1979.
Untuk pertama kalinya, media pemerintah Iran juga mengakui adanya korban tewas dalam insiden terkait unjuk rasa. Seorang pejabat pemerintah menyatakan bahwa memang terdapat korban meninggal dunia, namun jumlahnya tidak diumumkan sejak awal.
Pejabat tersebut beralasan, sejumlah korban mengalami luka parah sebelum meninggal dunia, sehingga data kematian baru terkonfirmasi setelah situasi mulai stabil.
Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis angka resmi korban jiwa secara menyeluruh. Sementara itu, komunitas internasional dan organisasi HAM terus mendesak adanya transparansi serta penyelidikan independen atas kekerasan yang terjadi selama gelombang demonstrasi nasional tersebut.




