Penangkapan Nicolás Maduro Bongkar Dugaan Cadangan Bitcoin Venezuela

Ilustrasi Bitcoin

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat pada awal Januari 2026 disebut-sebut membuka fakta baru terkait kepemilikan aset digital negara tersebut. Sejumlah laporan intelijen internasional mengungkap dugaan adanya cadangan Bitcoin dalam jumlah besar yang selama ini disembunyikan oleh pemerintah Venezuela.

Berdasarkan laporan tersebut, Venezuela diduga memiliki “cadangan bayangan” Bitcoin sebesar 600.000 hingga 660.000 BTC. Jumlah ini menempatkan Venezuela sebagai salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia, bahkan berpotensi melampaui kepemilikan institusi global seperti BlackRock dan MicroStrategy.

Pengungkapan ini diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap dinamika pasokan dan sentimen pasar kripto global sepanjang 2026. Dengan estimasi tersebut, Venezuela disebut menguasai sekitar 3 persen dari total pasokan Bitcoin yang beredar di dunia.

Laporan intelijen keuangan menyebutkan, akumulasi Bitcoin tersebut dilakukan secara bertahap sejak 2018 sebagai bagian dari strategi untuk menghindari sanksi ekonomi internasional. Setelah kegagalan proyek aset kripto nasional Petro, pemerintah Venezuela justru semakin mengandalkan aset digital sebagai instrumen keuangan alternatif.

Perusahaan minyak milik negara, Petróleos de Venezuela (PDVSA), dilaporkan mulai menerima pembayaran ekspor minyak mentah dalam bentuk stablecoin USDT. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan risiko pemblokiran sistem keuangan konvensional oleh otoritas Amerika Serikat. Dana hasil transaksi tersebut kemudian dialihkan ke Bitcoin guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menyamarkan jejak transaksi.

Selain itu, penertiban terhadap aktivitas penambangan Bitcoin ilegal di dalam negeri turut memperbesar cadangan aset digital negara. Bitcoin hasil sitaan dari operasi tersebut diduga dikonsolidasikan sebagai bagian dari simpanan nasional yang selama ini tidak pernah diumumkan secara terbuka.

Di sisi lain, kondisi geopolitik Venezuela berpotensi memberikan efek domino terhadap pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Ketidakpastian politik di negara pemilik cadangan minyak terbesar dunia itu berisiko memicu kenaikan harga energi, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan potensi inflasi akibat kenaikan biaya logistik dan transportasi.

Menanggapi situasi tersebut, platform aset kripto Bittime menekankan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang bagi investor Indonesia. “Peristiwa geopolitik global seperti ini sering kali memicu volatilitas pasar kripto. Investor perlu memahami bahwa pergerakan harga jangka pendek tidak selalu mencerminkan nilai fundamental aset digital,” ujar perwakilan Bittime dalam keterangannya.

Bittime juga mengingatkan agar investor tidak bersikap reaktif terhadap isu global tanpa analisis yang matang. “Pendekatan investasi jangka panjang, manajemen risiko yang disiplin, serta pemahaman terhadap faktor makroekonomi menjadi kunci agar investor tetap rasional dan tidak terjebak euforia maupun kepanikan,” pungkasnya.

Tutup