439 Sekolah Rusak Akibat Banjir Bandang, Pelajar Aceh Tamiang Minta Bantuan Relawan

Banjir Bandang dan Longsor di Aceh–Sumut–Sumbar. Foto: Istimewa

Sebanyak 439 bangunan sekolah di Kabupaten Aceh Tamiang mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Kerusakan meliputi sekolah dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga menengah, dengan kategori rusak ringan, sedang, hingga berat.

Banjir bandang tersebut menyebabkan lumpur dan material kayu menumpuk di ruang kelas, halaman sekolah, hingga fasilitas penunjang pendidikan. Akibatnya, proses belajar mengajar di banyak sekolah terpaksa terhenti karena kondisi bangunan yang belum layak digunakan.

Kondisi ini memantik kepedulian dari para siswa. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, seorang pelajar SMA Negeri 2 Patra, Sayyid, menyampaikan permohonan bantuan kepada relawan untuk membantu membersihkan sarana pendidikan yang terdampak banjir.

“Kami masih membutuhkan relawan untuk membantu membersihkan sarana pendidikan di Tamiang Aceh pascabencana,” ujar Sayyid dalam video tersebut.

Ia menegaskan, pemulihan sekolah menjadi kebutuhan mendesak agar kegiatan belajar mengajar bisa kembali berjalan normal. Menurutnya, pendidikan adalah hak dasar anak yang tidak boleh terhenti terlalu lama akibat bencana.

“Kami berharap sekolah dapat segera digunakan kembali agar hak anak untuk memperoleh pendidikan segera terpenuhi,” tambahnya.

Saat ini, sejumlah sekolah masih dipenuhi lumpur dan sisa material banjir. Dukungan tenaga relawan, peralatan kebersihan, serta bantuan logistik sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pembersihan dan rehabilitasi fasilitas pendidikan.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait disebut tengah mengupayakan solusi darurat bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Salah satu opsi yang disiapkan adalah penggunaan tenda darurat atau pemanfaatan bangunan alternatif agar siswa tetap bisa mengikuti pembelajaran.

Bencana banjir bandang ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana alam tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam keberlanjutan pendidikan anak-anak. Tanpa penanganan cepat dan kolaborasi lintas pihak, risiko ketertinggalan pendidikan di Aceh Tamiang dikhawatirkan semakin besar.

Tutup