Pengering Payung KAI Jadi Tempat Sampah, Cermin Rendahnya Literasi Publik
Fasilitas pengering payung milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) mendadak menjadi sorotan publik setelah diketahui kerap disalahgunakan sebagai tempat pembuangan botol minuman dan sampah plastik. Fenomena ini viral di media sosial dan memantik perbincangan soal rendahnya kesadaran serta budaya membaca di ruang publik.
Peristiwa tersebut diungkap melalui unggahan akun Threads @iimsobari yang membagikan pengalamannya saat berada di Stasiun KRL Sudirman. Dalam unggahan itu, ia memperlihatkan kondisi pengering payung yang dipenuhi sampah, meski pada alat tersebut telah tertera tulisan fungsi secara jelas.
“Sedih ya. Jelas-jelas ada tulisannya. Sebenarnya ini akibat malas baca, tidak peduli, atau memang disengaja?” tulis pemilik akun dalam unggahannya, yang kemudian menuai ratusan komentar dari warganet.
Respons publik pun beragam. Sebagian netizen menilai persoalan tersebut bukan semata kesalahan desain fasilitas, melainkan cerminan perilaku pengguna ruang publik yang abai terhadap aturan dan fungsi sarana umum. Pengering payung yang sejatinya membantu menjaga kebersihan stasiun justru berubah fungsi akibat perilaku tidak bertanggung jawab.
Fenomena ini dinilai memperlihatkan tantangan besar dalam pengelolaan fasilitas publik di kota-kota besar, terutama yang berkaitan dengan literasi dasar dan kedisiplinan sosial. Padahal, pengering payung disediakan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang saat musim hujan, sekaligus menjaga kebersihan area stasiun dari genangan air.
Sejumlah pengamat perkotaan menyebut, persoalan ini berulang di berbagai fasilitas umum, mulai dari toilet publik, eskalator, hingga ruang tunggu transportasi massal. Kurangnya kepedulian pengguna kerap membuat fasilitas cepat rusak atau tidak berfungsi optimal.
Di sisi lain, viralnya kasus ini juga dianggap sebagai pengingat bagi pengelola transportasi untuk terus melakukan edukasi publik. Sosialisasi yang masif, pengawasan petugas, hingga desain visual yang lebih komunikatif dinilai perlu diperkuat agar fungsi fasilitas tidak disalahartikan.
Kasus pengering payung KAI ini pada akhirnya bukan sekadar soal sampah di stasiun, melainkan refleksi sikap bersama terhadap ruang publik. Di tengah upaya membangun transportasi modern dan berkelanjutan, kesadaran pengguna menjadi kunci agar fasilitas yang tersedia benar-benar memberi manfaat, bukan justru menjadi simbol rendahnya literasi dan kepedulian sosial.





