Meriam Ki Amuk, Penjaga Laut Banten yang Menyimpan Jejak Kejayaan Kesultanan
Meriam Ki Amuk berdiri kokoh di kawasan Banten Lama, Kota Serang, Banten, dan menjadi salah satu artefak sejarah paling ikonik peninggalan Kesultanan Banten. Berada di halaman Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama—tak jauh dari Masjid Agung Banten—meriam raksasa berbahan perunggu ini menjadi magnet bagi wisatawan dan peziarah yang datang setiap hari.
Dengan bobot mencapai tujuh ton dan panjang lebih dari tiga meter, Meriam Ki Amuk dahulu ditempatkan di garis pertahanan utama Kesultanan Banten, khususnya di Pelabuhan Karanghantu. Fungsinya sangat strategis: menjaga gerbang laut Teluk Banten dari ancaman musuh, terutama Portugis yang kala itu aktif menguasai jalur perdagangan.
Asal-Usul Meriam: Antara Fakta Historis dan Legenda
Sejumlah catatan sejarah, termasuk dari peneliti K.C. Crucq, menyebut Meriam Ki Amuk berasal dari masa awal berdirinya Kesultanan Banten pada abad ke-16. Salah satu versi yang paling populer menyatakan meriam ini merupakan hadiah dari Sultan Trenggono (Kesultanan Demak) kepada Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati sekaligus pendiri Kesultanan Banten.
Namun, masyarakat Banten juga menyimpan kisah lain yang lebih bernuansa mitologis. Dalam versi ini, Meriam Ki Amuk diyakini sebagai jelmaan seorang prajurit kembar Demak yang dikutuk karena melanggar larangan leluhur. Ki Amuk disebut sebagai “kembaran” Meriam Si Jagur yang kini tersimpan di Jakarta.
Nama “Ki Amuk” diberikan karena suara dentumannya yang menggelegar dan menimbulkan kengerian saat ditembakkan—seolah meriam tersebut sedang “mengamuk” di tengah pertempuran.
Simbol Kekuasaan Sekaligus Penjaga Spiritual
Bagi masyarakat Banten, Meriam Ki Amuk bukan sekadar alat perang. Meriam ini juga dipandang sebagai simbol keperkasaan, kehormatan, dan penjaga spiritual Kesultanan. Tidak sedikit warga yang menyebutnya sebagai Ki Jimat, karena dianggap memiliki kekuatan gaib dan menjadi benda keramat yang dihormati.
Nilai simbolis itu diperkuat oleh dua inskripsi Arab yang terukir jelas pada tubuh meriam:
1. “Aqibah al-Khairi Salamah al-Imani”
Artinya: “Buah dari segala kebaikan adalah kesempurnaan iman.”
Kalimat ini menggambarkan prinsip moral para pejuang Kesultanan dalam menjalankan jihad mempertahankan wilayah.
2. “La fata illa Ali la saifa illa Zulfiqar…”
Makna singkatnya: “Tiada pemuda seperti Ali, tiada pedang seperti Zulfiqar.”
Inskripsi ini menjadi simbol keberanian, keteguhan, dan kesetiaan seorang prajurit dalam menjaga tanah air.
Kini, Meriam Ki Amuk dijaga ketat dan menjadi salah satu aset budaya terpenting Provinsi Banten. Tidak hanya menjadi saksi kejayaan masa lalu, artefak ini juga membawa pesan spiritualitas dan kebangsaan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Penulis: Ahmad Ainur Ridho




