Kelangkaan BBM di Medan Picu Dampak Ekonomi: Warga Antre Berjam-Jam
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Medan pasca banjir yang melanda sejak Kamis (27/11) mulai menimbulkan efek ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Antrean panjang di berbagai SPBU membuat aktivitas warga terganggu hingga memicu biaya sosial dan ekonomi yang tidak kecil.
Kelangkaan ini memaksa warga mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM, bahkan hanya satu hingga dua liter. Kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri, mengingat BBM merupakan kebutuhan vital untuk mobilitas, distribusi barang, hingga aktivitas ekonomi sehari-hari.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, terlihat seorang warga yang harus makan di lokasi antrean karena menunggu begitu lama.
“Lapar saat antre nasi bungkus X, lapar saat antre mau isi BBM V,” tulis keterangan video tersebut, dikutip Rabu (3/12/2025).
Situasi ini menambah beban masyarakat yang sebelumnya sudah terdampak banjir. Waktu produktif terbuang, biaya transportasi meningkat, dan sebagian pelaku usaha kecil mengeluhkan terhambatnya distribusi barang karena keterbatasan BBM.
Sejumlah warga mengatakan antrean dapat berlangsung hingga hitungan jam, bahkan seharian penuh. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat harus mengorbankan aktivitas pekerjaan maupun usaha.
Di sisi lain, pengamat ekonomi regional menilai kelangkaan BBM setelah bencana dapat memperlambat pemulihan ekonomi daerah. Transportasi logistik, pengangkutan barang kebutuhan harian, serta mobilitas pekerja berpotensi terganggu dalam beberapa hari ke depan jika distribusi BBM tidak segera dipulihkan.
Masyarakat berharap pemerintah dan Pertamina dapat mempercepat normalisasi pasokan, mengingat BBM merupakan komponen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi lokal pascabencana.




