Luhut Lawan Sentimen Negatif IMIP?

Luhut Binsar Panjaitan.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, akhirnya angkat bicara menanggapi polemik terkait kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), termasuk isu pembangunan bandara dan investasi asing yang ramai dibicarakan belakangan ini.

Dalam penjelasan resminya, Luhut menegaskan bahwa transformasi industri nasional, termasuk proyek strategis di Morowali, bukanlah keputusan tiba-tiba, melainkan hasil perjalanan panjang yang telah ia rumuskan sejak menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada 2001.

Transformasi Industri: Proses Panjang dan Rumit

Luhut menekankan bahwa setiap kebijakan industrialisasi—termasuk hilirisasi nikel—melalui proses kajian yang kompleks.

“Transformasi industri tidak lahir dalam semalam. Itu bagian dari gagasan yang sudah saya dorong sejak 2001,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa Morowali ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional karena pemerintah ingin mengakhiri ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Proyek IMIP sendiri dimulai pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diselesaikan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurut Luhut, proyek tersebut membuktikan bahwa Indonesia kini telah beranjak dari sekadar pengekspor bijih mentah menjadi negara yang mampu mengekspor produk bernilai tambah tinggi.

Mengapa Investor Asing Didominasi Tiongkok?

Menjawab kritik soal dominasi investor Tiongkok di Morowali, Luhut mengatakan bahwa keputusan itu diambil berdasarkan kajian readiness berbagai negara.

“Setelah mengkaji kesiapan pasar, teknologi, dan investasi dari banyak negara, hanya Tiongkok saat itu yang benar-benar siap memenuhi kebutuhan pembangunan industri kita,” jelasnya.

Hilirisasi dan Kekhawatiran Awal Pemerintah

Luhut juga mengungkap bahwa ekspor bijih nikel sebelumnya hanya menyumbang sekitar USD 1,2 miliar per tahun, dengan 98 persen berupa tanah dan air.

Ketika usulan hilirisasi muncul, Presiden Jokowi sempat khawatir bahwa penghentian ekspor bijih akan menurunkan pendapatan negara dalam jangka pendek.

“Beberapa menteri juga khawatir. Tapi setelah analisis mendalam, saya sampaikan bahwa dua sampai tiga tahun pertama memang berat, namun manfaat jangka panjangnya sangat besar,” kata Luhut.

Prediksi tersebut terbukti. Tahun lalu, ekspor produk turunan nikel mencapai USD 34 miliar dan diperkirakan naik menjadi USD 36,38 miliar tahun ini. Ekspor tersebut menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional.

Keputusan Diambil Secara Transparan dan Terukur

Luhut menegaskan bahwa setiap keputusan terkait Morowali dilakukan melalui proses terintegrasi, transparan, dan berdasarkan analisis keuangan yang jelas. Rintangan yang dihadapi, katanya, tidak pernah mengubah komitmen menjaga kepentingan nasional sebagai faktor utama.

“Kerja sama selalu perlu kompromi. Tapi dalam investasi strategis, syaratnya harus jelas agar Indonesia mendapat manfaat maksimal,” tegasnya.

Tutup