Jawa Barat Jadi Magnet Investasi Nasional, Kinerja LPCK di Cikarang Melonjak Tajam
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Jawa Barat justru mencetak sejarah baru. Provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia itu kembali menunjukkan taringnya sebagai magnet investasi nasional setelah realisasi investasi Kuartal III 2025 menembus Rp77,13 triliun—lonjakan lebih dari sepertiga hanya dalam satu tahun.
Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi bukti bahwa denyut ekonomi Jawa Barat terus menguat, menarik industri, modal, hingga puluhan ribu lapangan kerja baru.
Momentum inilah yang kini ikut mengerek kinerja raksasa properti PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), yang melesat sejalan dengan derasnya arus investasi menuju kawasan industri dan pemukiman strategis di provinsi tersebut.
Disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat, Dedi Taufik, ia menyatakan capaian tersebut menegaskan daya tarik provinsi itu bagi investor domestik maupun asing.
“Iklim usaha yang kondusif, dukungan infrastruktur, dan percepatan layanan perizinan terus menjadi faktor utama yang menjaga momentum positif ini,” ujarnya.
Kenaikan investasi turut menyerap tenaga kerja bagi 303.469 orang, meningkat 4,45% secara tahunan. Dedi juga optimistis pertumbuhan akan berlanjut seiring ekspansi di kawasan industri seperti Rebana, Bekasi, dan Bandung Raya.
Sejalan dengan tren tersebut, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) mencatat peningkatan signifikan baik dari sisi penjualan maupun kinerja keuangan melalui pengembangan kawasan Lippo Cikarang Cosmopolis (LCC).
Presiden Direktur LPCK, Marlo Budiman, mengatakan pertumbuhan investasi dan tenaga kerja di Jawa Barat berkontribusi pada naiknya permintaan properti.
“Kami melihat permintaan berkelanjutan pada hunian tapak maupun komersial, dan berkomitmen menjaga kepercayaan konsumen melalui penyelesaian proyek tepat waktu,” ujarnya.
Pada periode Januari–September 2025, LPCK meraih pra-penjualan sebesar Rp1,2 triliun atau 73% dari target tahunan Rp1,65 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari segmen rumah tapak (60%), unit komersial (34%), dan lahan industri (6%) dengan total 1.154 unit terjual, didorong peluncuran produk Neo Top.
Kinerja keuangan LPCK juga melonjak pada Kuartal III 2025 dengan pendapatan mencapai Rp3,44 triliun, naik 251% secara tahunan. Pertumbuhan ditopang oleh serah terima rumah tapak, apartemen, ruko, lahan industri, serta pendapatan dari pengelolaan kota yang menyumbang Rp355 miliar.
Segmen rumah tapak mencatat pertumbuhan 683%, sementara komersial naik 187%. Perusahaan membukukan laba kotor Rp670 miliar dengan margin 19%, serta EBITDA Rp363 miliar atau tumbuh 43% year-on-year dengan margin 11%.
Dengan dukungan iklim investasi Jawa Barat yang solid dan kinerja internal yang kuat, LPCK optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus ikut mendorong Jawa Barat sebagai pusat investasi dan pengembangan properti nasional.




